Judul
Buku : Ki Hajar Dewantara Biografi
Singkat 1889-1959
Penulis : Suparto Rahardjo
Penerbit : Garasi House of Book
Cetakan : V, 2013
Tebal : 136 hlm, 13,5 x 20 cm
ISBN : 978-979-25-4616-3
Kemerdekaan dan
Wajah Pendidikan Indonesia
Sosio-historis Ki Hajar Dewantara dalam
buku ini memang cukup menarik dan begitu mengagumkan dengan
perjuangan-perjuangan yang dilakukannya. Kritik kepada pemerintahan Belanda
cukup memberikan ancaman di negeri jajahannya. Namun ilustrasi dan pemaparan peristiwanya masih
terkesan tidak dewasa. Seakan tak ada kata dan peritiwa lain lagi yang akan
dipaparkan. Beberapa ulasan sejarah kehidupan dan perjuangan Ki Hajar diulang
hingga beberapa kali.
“Pemerintah menyatakan bahwa wafatnya Ki
Hajar Dewantara merupakan hilangnya seorang pendekar, yang sifat-sifatnya telah
memberi kekuatan batin pada perjuangan kemerdekaan politik, kemerdekaan sosial,
ekonomi, maupun perjuangan kebudayaan dan keruhanian”. (Soekarno, Presiden RI
Pertama).
Buku molek ini mengajak kita, para kaum
nasionalis, dan akademisi untuk kembali menyelami dan merenungi perjuangan Ki
Hajar Dewantara pada masa penjajahan Belanda di Hindia. Diharapkan dari
renungan ini kita sebagai bangsa Indonesia mampu melanjutkan perjuangannya
dalam bidang pendidikan agar bangsa Indonesia tidak lagi terjajah baik secara
langsung atau tidak langsung. Ulasan dalam buku ini mencakup riwayat singkat
hidup Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan Indonesia dan penggerak
kemerdekaan. Yang mana untuk mengawali menuju kemerdekaan Indonesia ia
menggunakan media pendidikan sebagai alternatif.
RINGKASAN ISI
CERITA
Sosok Ki Hajar Dewantara merupakan tokoh
fenomenal baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi, dan utamanya dalam bidang
pendidikan (keruhanian). Perannya merupakan fondasi bagi kemerdekaan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui dunia pendidikan. Karena dengan
pendidikan bangsa Indonesia semakin cerdas sehingga semangat dan kemauan untuk
merdeka tumbuh dengan sendirinya tanpa harus dipaksakan.
Ki Hajar dalam perjuangannya tak cukup
mudah dalam dunia pendidikan untuk menuju kemerdekaan. Beliau mengalami banyak
hambatan. Misalkan pengasingan karena gagasannya yang mengancam pemerintahan
kolonial Belanda. Itu tidak hanya dialami oleh Ki Hajar saja. Namun dua
rekannya juga – Cipto Mangunkusumo dan Dowwes Dekker – yang tak luput dari
hukuman yang sama (Hal. 15-16). Pada kesempatan itu, mereka meminta agar
diasingkan ke Belanda daripada di pulau Banda. Di sana mereka bisa mempelajari
banyak hal daripada di daerah terpencil. Akhirnya, mereka diizinkan ke negeri
Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman.
Seorang Penulis,
Ki Hajar semenjak masih bernama Suwardi
Suryaningrat banyak menulis di berbagai surat kabar, majalah, dan brosur-brosur
serta penerbitan dan lain-lain, yang tersebar di Indonesia maupun Belanda.
Bahkan, selama menjalani hukuman pengasingan di Belanda (1913-1919), ia bekerja
keras menulis artikel untuk menghidupi keluarganya. Uang yang dikumpulkan dari
tulisan-tulisan yang diterbitkan di Indonesia atau Belanda itulah yang kelak
membuatnya mampu membiayai perjalanan pulang ke Indonesia tanpa merepotkan
orang lain (Hal. 30).
Ki Hajar memulai aktivitas menulisnya di
surat kabar seperti Kaum Muda, Utusan Hindia, Tjahaya Timur, dan lain-lain. Ia
memang mengawali kiprahnya sebagai seorang penulis muda yang ulet.
Tulisan-tulisannya tajam, komunikatif, sekaligus provokatif. Tu-lisan-tulisan
itu juga memantik semangat petriotik bagi siapa pun yang membacanya untuk
kemudian berusaha mengusir penjajah. Ki Hajar menjelma penulis andal pada
zamannya.
Tulisannya yang terkenal adalah Als Ik
Eens Nederlander Was (Andai Aku Seorang Belanda). Pamflet ini membuat
pemerintah kolonial Belanda tersinggung dan murka. Sebab tu-lisan ini pula Ki
Hajar dan rekan-re-kannya diasingkan. Ketika diasing bukan malah berhenti
menulis, tapi tulisannya makin hari makin tajam dan kritis.
Tulisan-tulisan Ki Hajar tidak serta
merta mengkritik pemerintahan kolonial Belanda dan memacu kemerdekaan
Indonesia. Namun juga yang dimuat di majalah Wasita memuat tentang pendidikan
yang harus didapat oleh bangsa Indonesia. Seperti halnya ide dan gagasan dalam
tulisannya tentang konsep, makna dan arah pendidikan bangsa Indonesia. Misalkan
seperti: Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani
(Hal. 74-81).
Sayangnya, dari tiga pemikiran tersebut
yang masih tampak kekal hanya Tut Wuri Handayani yang bisa ditemui di topi-topi
anak-anak sekolah dasar dan menengah. Hal ini menjadi perhatian bagi kita dan
pemerintah agar tetap menjaga semangat perjuagan Ki Hajar Dewantara. Karena
sebab beliau kita bisa melihat pendidikan dan negara Indonesia tercerahkan.
Membaca jejak Ki Hajar Dewantara penuh
dengan dedikasi pada spirit kerakyatan. Meskipun keturunan ningrat, Ki Hajar
bukanlah sosok yang menaruh jarak dengan kehidupan masyarakat. Sejak kecil Ki
Hajar akrab dengan rakyat jelata. Atribut kebangsawanan yang melekat pada nama
Raden Mas Suwardi Suryaningrat pun ditinggalkan. Tepat pada tanggal 23 Februari
1928, nama itu telah berganti menjadi Ki Hajar Dewantara yang kemudian dikenal
sebagai Bapak Pendidikan Nasional.
Ki Hajar boleh dikatakan sebagai sosok
yang humanis dan merakyat. Ada cerita menarik di sini. Pernah ibunda Ki Hajar
berkata kepada beliau ketika pergi ke Candi Borobudur, “Anakku Suwardi,
lihatlah stupa di puncak candi itu. Manis dan indah, bukan? Tapi ketahuilah
Wardi, bahwa stupa itu takkan berada di puncak candi jikalau tidak ada
batu-batu dasar yang mendukungnya. Itulah ibaratnya rakyat jelata, itulah
gambaran para budak dan hamba sahaya para raja. Oleh sebab itu, jikalau Tuhan
mentakdirkan dirimu menjadi raja, janganlah kau lupa kepada rakyat jelata yang
menaikkan dirimu ke atas puncak dari segala puncak kemegahan kerajaan warisan
nenek moyangmu. Cintailah dan hargailah sesamamu, terutama rakyatmu yang
menderita dan memerlukan uluran tanganmu.” Kata-kata ibunda Ki Hajar ini
menjadi petuah bijak yang dihayati Ki Hajar dalam perjalanan hidupnya.
Kepribadian Ki Hajar menjadi cermin betapa perhatian dan kepedulian terhadap
rakyat tak boleh dilalaikan.
Sikap dan laku kepedulian terhadap
rakyat kemudian mengilhami Ki Hajar bersama sahabat-sahabatnya untuk mendirikan
perguruan nasional Taman Siswa (Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa) pada
3 Juli 1922 di Yogyakarta. Lewat Taman Siswa, Ki Hajar berkehendak mendidik
rakyat agar mampu mandiri. Pendidikan bagi rakyat adalah niscaya untuk
mewujudkan cita-cita memerdekakan diri dari ketertindasan. Melalui metode
among, Tamansiswa meletakkan pendidikan sebagai alat dan syarat untuk anak-anak
hidup sendiri, mandiri, dan berguna bagi masyarakat. Pendidikan yang diajarkan
adalah menegakkan jiwa anak-anak sebagai bangsa, membimbing anak-anak menjadi
manusia yang bisa hidup dengan kecakapan dan kepandaiannnya sendiri,
menciptakan manusia yang berguna bagi diri sendiri dan masyarakat (hlm. 56-57).
Buku yang ditulis Suparto Rahardjo ini
memang berupaya menceritakan perjalanan Ki Hajar. Membuka buku ini, kita menjumpai
sekilas jejak kehidupan dan aktivitas pergerakan Ki Hajar. Selain merakyat dan
humanis, kepribadian Ki Hajar diuraikan sebagai sosok yang keras tapi tidak
kasar, nasionalis sejati, pemimpin yang konsisten, berani dan setia, dan
bersahaja.
Tak lupa pula pemikiran Ki Hajar terkait
aspek pendidikan disajikan dalam buku ini. Membaca buku ini, kita diajak
menyelami pemikiran Ki Hajar dalam usaha pendidikan anak-anak bangsa. Meskipun
berupa riwayat singkat, buku ini tetap menarik. Ada sosok besar yang pernah
dilahirkan di negeri ini yang mungkin kita lupakan. Kita hanya menghargai
beliau dengan sebutan Bapak Pendidikan Nasional semata, namun pemikiran
pendidikan beliau alpa dikaji dan ditelaah. Lewat riwayat singkat ini, kita
menelusuri laku hidup Ki Hajar.
BUKU REFERENSI
Suparto Rahardjo. 2013. Ki Hajar Dewantara Biografi Singkat 1889-1959. Yogyakarta: Garasi
House of Book.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar