Kamis, 17 Mei 2018

Tugas Membuat Artikel


Judul Buku      : Ki Hajar Dewantara Biografi Singkat 1889-1959
Penulis             : Suparto Rahardjo
Penerbit           : Garasi House of Book
Cetakan           : V, 2013
Tebal               : 136 hlm, 13,5 x 20 cm
ISBN               : 978-979-25-4616-3


Kemerdekaan dan Wajah Pendidikan Indonesia

Sosio-historis Ki Hajar Dewantara dalam buku ini memang cukup menarik dan begitu mengagumkan dengan perjuangan-perjuangan yang dilakukannya. Kritik kepada pemerintahan Belanda cukup memberikan ancaman di negeri jajahannya. Namun  ilustrasi dan pemaparan peristiwanya masih terkesan tidak dewasa. Seakan tak ada kata dan peritiwa lain lagi yang akan dipaparkan. Beberapa ulasan sejarah kehidupan dan perjuangan Ki Hajar diulang hingga beberapa kali.

“Pemerintah menyatakan bahwa wafatnya Ki Hajar Dewantara merupakan hilangnya seorang pendekar, yang sifat-sifatnya telah memberi kekuatan batin pada perjuangan kemerdekaan politik, kemerdekaan sosial, ekonomi, maupun perjuangan kebudayaan dan keruhanian”. (Soekarno, Presiden RI Pertama).

Buku molek ini mengajak kita, para kaum nasionalis, dan akademisi untuk kembali menyelami dan merenungi perjuangan Ki Hajar Dewantara pada masa penjajahan Belanda di Hindia. Diharapkan dari renungan ini kita sebagai bangsa Indonesia mampu melanjutkan perjuangannya dalam bidang pendidikan agar bangsa Indonesia tidak lagi terjajah baik secara langsung atau tidak langsung. Ulasan dalam buku ini mencakup riwayat singkat hidup Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan Indonesia dan penggerak kemerdekaan. Yang mana untuk mengawali menuju kemerdekaan Indonesia ia menggunakan media pendidikan sebagai alternatif.


RINGKASAN ISI CERITA

Sosok Ki Hajar Dewantara merupakan tokoh fenomenal baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi, dan utamanya dalam bidang pendidikan (keruhanian). Perannya merupakan fondasi bagi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui dunia pendidikan. Karena dengan pendidikan bangsa Indonesia semakin cerdas sehingga semangat dan kemauan untuk merdeka tumbuh dengan sendirinya tanpa harus dipaksakan.

Ki Hajar dalam perjuangannya tak cukup mudah dalam dunia pendidikan untuk menuju kemerdekaan. Beliau mengalami banyak hambatan. Misalkan pengasingan karena gagasannya yang mengancam pemerintahan kolonial Belanda. Itu tidak hanya dialami oleh Ki Hajar saja. Namun dua rekannya juga – Cipto Mangunkusumo dan Dowwes Dekker – yang tak luput dari hukuman yang sama (Hal. 15-16). Pada kesempatan itu, mereka meminta agar diasingkan ke Belanda daripada di pulau Banda. Di sana mereka bisa mempelajari banyak hal daripada di daerah terpencil. Akhirnya, mereka diizinkan ke negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman.

Seorang Penulis,

Ki Hajar semenjak masih bernama Suwardi Suryaningrat banyak menulis di berbagai surat kabar, majalah, dan brosur-brosur serta penerbitan dan lain-lain, yang tersebar di Indonesia maupun Belanda. Bahkan, selama menjalani hukuman pengasingan di Belanda (1913-1919), ia bekerja keras menulis artikel untuk menghidupi keluarganya. Uang yang dikumpulkan dari tulisan-tulisan yang diterbitkan di Indonesia atau Belanda itulah yang kelak membuatnya mampu membiayai perjalanan pulang ke Indonesia tanpa merepotkan orang lain (Hal. 30).

Ki Hajar memulai aktivitas menulisnya di surat kabar seperti Kaum Muda, Utusan Hindia, Tjahaya Timur, dan lain-lain. Ia memang mengawali kiprahnya sebagai seorang penulis muda yang ulet. Tulisan-tulisannya tajam, komunikatif, sekaligus provokatif. Tu-lisan-tulisan itu juga memantik semangat petriotik bagi siapa pun yang membacanya untuk kemudian berusaha mengusir penjajah. Ki Hajar menjelma penulis andal pada zamannya.

Tulisannya yang terkenal adalah Als Ik Eens Nederlander Was (Andai Aku Seorang Belanda). Pamflet ini membuat pemerintah kolonial Belanda tersinggung dan murka. Sebab tu-lisan ini pula Ki Hajar dan rekan-re-kannya diasingkan. Ketika diasing bukan malah berhenti menulis, tapi tulisannya makin hari makin tajam dan kritis.

Tulisan-tulisan Ki Hajar tidak serta merta mengkritik pemerintahan kolonial Belanda dan memacu kemerdekaan Indonesia. Namun juga yang dimuat di majalah Wasita memuat tentang pendidikan yang harus didapat oleh bangsa Indonesia. Seperti halnya ide dan gagasan dalam tulisannya tentang konsep, makna dan arah pendidikan bangsa Indonesia. Misalkan seperti: Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani (Hal. 74-81).

Sayangnya, dari tiga pemikiran tersebut yang masih tampak kekal hanya Tut Wuri Handayani yang bisa ditemui di topi-topi anak-anak sekolah dasar dan menengah. Hal ini menjadi perhatian bagi kita dan pemerintah agar tetap menjaga semangat perjuagan Ki Hajar Dewantara. Karena sebab beliau kita bisa melihat pendidikan dan negara Indonesia tercerahkan.

Membaca jejak Ki Hajar Dewantara penuh dengan dedikasi pada spirit kerakyatan. Meskipun keturunan ningrat, Ki Hajar bukanlah sosok yang menaruh jarak dengan kehidupan masyarakat. Sejak kecil Ki Hajar akrab dengan rakyat jelata. Atribut kebangsawanan yang melekat pada nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat pun ditinggalkan. Tepat pada tanggal 23 Februari 1928, nama itu telah berganti menjadi Ki Hajar Dewantara yang kemudian dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

Ki Hajar boleh dikatakan sebagai sosok yang humanis dan merakyat. Ada cerita menarik di sini. Pernah ibunda Ki Hajar berkata kepada beliau ketika pergi ke Candi Borobudur, “Anakku Suwardi, lihatlah stupa di puncak candi itu. Manis dan indah, bukan? Tapi ketahuilah Wardi, bahwa stupa itu takkan berada di puncak candi jikalau tidak ada batu-batu dasar yang mendukungnya. Itulah ibaratnya rakyat jelata, itulah gambaran para budak dan hamba sahaya para raja. Oleh sebab itu, jikalau Tuhan mentakdirkan dirimu menjadi raja, janganlah kau lupa kepada rakyat jelata yang menaikkan dirimu ke atas puncak dari segala puncak kemegahan kerajaan warisan nenek moyangmu. Cintailah dan hargailah sesamamu, terutama rakyatmu yang menderita dan memerlukan uluran tanganmu.” Kata-kata ibunda Ki Hajar ini menjadi petuah bijak yang dihayati Ki Hajar dalam perjalanan hidupnya. Kepribadian Ki Hajar menjadi cermin betapa perhatian dan kepedulian terhadap rakyat tak boleh dilalaikan.

Sikap dan laku kepedulian terhadap rakyat kemudian mengilhami Ki Hajar bersama sahabat-sahabatnya untuk mendirikan perguruan nasional Taman Siswa (Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa) pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Lewat Taman Siswa, Ki Hajar berkehendak mendidik rakyat agar mampu mandiri. Pendidikan bagi rakyat adalah niscaya untuk mewujudkan cita-cita memerdekakan diri dari ketertindasan. Melalui metode among, Tamansiswa meletakkan pendidikan sebagai alat dan syarat untuk anak-anak hidup sendiri, mandiri, dan berguna bagi masyarakat. Pendidikan yang diajarkan adalah menegakkan jiwa anak-anak sebagai bangsa, membimbing anak-anak menjadi manusia yang bisa hidup dengan kecakapan dan kepandaiannnya sendiri, menciptakan manusia yang berguna bagi diri sendiri dan masyarakat (hlm. 56-57).

Buku yang ditulis Suparto Rahardjo ini memang berupaya menceritakan perjalanan Ki Hajar. Membuka buku ini, kita menjumpai sekilas jejak kehidupan dan aktivitas pergerakan Ki Hajar. Selain merakyat dan humanis, kepribadian Ki Hajar diuraikan sebagai sosok yang keras tapi tidak kasar, nasionalis sejati, pemimpin yang konsisten, berani dan setia, dan bersahaja.

Tak lupa pula pemikiran Ki Hajar terkait aspek pendidikan disajikan dalam buku ini. Membaca buku ini, kita diajak menyelami pemikiran Ki Hajar dalam usaha pendidikan anak-anak bangsa. Meskipun berupa riwayat singkat, buku ini tetap menarik. Ada sosok besar yang pernah dilahirkan di negeri ini yang mungkin kita lupakan. Kita hanya menghargai beliau dengan sebutan Bapak Pendidikan Nasional semata, namun pemikiran pendidikan beliau alpa dikaji dan ditelaah. Lewat riwayat singkat ini, kita menelusuri laku hidup Ki Hajar.



BUKU REFERENSI
Suparto Rahardjo. 2013. Ki Hajar Dewantara Biografi Singkat 1889-1959. Yogyakarta: Garasi House of Book.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar