Selasa, 17 Mei 2016

Pengalaman Bersama Dosen

Nama            : Fitri Mahendi Prameswari
NIM              : 150388201075
Kelas             : H-03
Jurusan         : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas        : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Tugas            : Membuat karangan cerpen
Mata Kuliah : Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia



Kumpulan Kisah Nyata 1001 Pengalaman Kelas H3

Hai, namaku Fitri Mahendi Prameswari. Senang sekali kalau sudah lulus SMA dan sekarang melanjutkannya ke tingkat yang lebih tinggi yaitu di salah satu perguruan tinggi. Aku memutuskan untuk mendaftar di perguruan tinggi negeri “Universitas Maritim Raja Ali Haji” atau biasa disebut UMRAH. UMRAH merupakan satu-satunya universitas negeri yang ada di kota Tanjungpinang. Apalagi, sekarang tidak perlu memakai seragam lagi. Di Umrah ini juga memiliki dosen yang sifatnya macam-macam. Selama hampir satu tahun ini, aku memiliki banyak pengalaman dengan teman-teman dan dosen. Perasaan cemas pasti ada untuk mahasiswa baru sepertiku, memikirkan apakah dosen-dosen di UMRAH ini lebih menakutkan dari guru yang mengajar di SMA ? Ketika dosen pertama masuk ke kelas, memang belum masuk ke materi hanya perkenalan awal saja. Dosen-dosen silih berganti masuk kelasku. Awal masuk kuliah di hari Senin, dosen yang pertama kali masuk di kelasku untuk mengajar adalah bu Legi Elfitra. Bu Legi mengajar di kelasku pada mata kuliah perencanaan pengajaran bahasa Indonesia. Penampilan bu Legi sangat sopan sekali, karena beliau memakai jilbab dan pakaian yang rapi. Beliau mengajar dengan sangat baik, cara berbicara yang lembut membuat aku merasa nyaman dan cukup mengerti dengan apa yang ia sampaikan saat menerangkan materi di kelas. Bu Legi juga mengajar mata kuliah linguistik umum menggantikan bu Wahyu Indriyati yang sedang cuti untuk melahirkan. Pernah ada rasa kesal saat bu Legi mengajar mata kuliah ini, penyebabnya karena bu Legi hampir jarang masuk untuk mengajar. Sehingga kami sebagai mahasiswa menjadi kurang mengerti dengan materi linguistik umum ini. Untung saja beliau masih menyempatkan untuk mengajar kami pada beberapa minggu menjelang UTS (Ujian Tengah Semester) dan UAS (Ujian Akhir Semester), sehingga kami bisa mengerjakan ujian pada saat itu. Tetapi, kami semua memahami kondisi bu Legi yang sibuk. Bisa dibilang bu Legi mengenalku saat di kelas, karena aku cukup aktif di kelas, tidak pernah absen, semua tugas selalu dikerjakan dan dikumpulkan tepat waktu.

Pada mata kuliah selanjutnya, jantungku kembali berdebar-debar menunggu dosen masuk. Pak Robby Patria adalah dosen mata kuliah kedua di hari Senin ini. Beliau mengajar pada mata kuliah pendidikan kewarganegaraan. Penampilan yang selalu rapi dengan rambutnya yang tipis dan kacamatanya. Cukup tegang saat mengikuti mata kuliah ini, karena pak Robby sering bertanya kepada salah satu mahasiswanya mengenai materi yang sedang dipelajari. Terkadang aku juga sering terkena giliran menjawab pertanyaannya. Ntah apa yang harus aku katakan, aku takut salah menjawabnya. Pernah saat UAS, aku dan temanku Eka lupa membawa lirs. Untung saja pak Robby masih memberikan kesempatan untuk tetap mengikuti UAS. Keesokan harinya, aku dan Eka mencari pak Robby tetapi tidak ketemu. Alhasil, lirs pada kolom UAS mata kuliahnya belum di tanda tangani olehnya. Sedih, karena lirs ini syarat untuk mengurus wisuda dan harus lengkap ditanda tangani oleh setiap dosen mata kuliah. Malasnya saat pelajaran mata kuliah pak Robby ini, terkadang membosankan. Itu semua karena materi yang terlalu sulit, mata kuliah yang masuknya selalu siang, cara berbicara pak Robby yang terkadang sedikit meninggi dan membingungkan. Ada waktu bercanda juga untuk menghilangkan rasa ngantuk. Penjagaan UAS yang sangat ketat, sulit untuk mencontek.

Masuk mata kuliah ketiga di hari selasa pada jam pertama yaitu mata kuliah bahasa Inggris dengan dosennya pak Satria Agus. Bisa dibilang dosen yang gokil sih, dosen yang lucu cara bicaranya. Sebenarnya, mata kuliah ini adalah mata kuliah yang tidak aku sukai. Selain karena mempelajari materinya yang kadang sulit aku terjemahkan, tetapi karena pak Satria ini orang yang memahami kekurangan mahasiswanya dalam berbahasa Inggris. Dosen yang sabar mengulang kembali materi agar mahasiswanya bisa memahami materi yang ia sampaikan. Pak Satria sering memberikan tugas kelompok tentang percakapan menggunakan bahasa Inggris, melatih cara berbicara dan menghafal kata demi kata yang sebelumnya hanya aku tau dasarnya saja. Pernah pada saat aku kurang fokus memperhatikannya, ia menyuruhku untuk maju dan mengerjakan soal di papan tulis. Karena aku tidak tahu mau menjawab apa, aku meminta tolong temanku untuk membantuku memjawabnya. Teman-teman dikelas menduga bahwa pak Satria itu masih single (belum menikah), padahal pak Satria itu sudah menikah. Ujian tersulit itu pada waktu ujian dengan pak Satria. Susah untuk bertanya dengan teman yang lain bila ada soal yang tidak tahu jawabannya, setiap gerakan pasti ia tahu. Tapi alhamdulillah, nilai semester satu mata kuliah bahasa Inggris dengannya aku mendapat nilai A-.

Keesokan harinya, aku dan teman-teman di kelas mempelajari mata kuliah teori dan sejarah sastra dengan dosen pak Suhardi. Dibilang punya pengalaman dengan beliau pasti ada. Beliau ini masih dibilang belum tua-tua kali, tetapi tidak terlalu muda juga. Seperti sosok ayah yang berpenampilan rapi dan kesederhanaannya. Aku juga pernah bertemu dengan pak Suhardi di pamedan tempat pemberhentian bus UMRAH yang menjemput mahasiswa yang tidak memiliki kendaraan dan takut membawa kendaraan sendirian. Aku dan temanku menegurnya, karena pada saat itu kami berdua takut terlambat masuk mata kuliahnya. Tetapi karena melihatnya di sana membuat kami tenang, ya setidaknya kami belum terlambat masuk. Lucu saat pak Suhardi mengajar di kelas, ia menerangkan tanpa membuat kami merasa tegang belajar di kelas. Kadang-kadang, ia suka mengajak kami bercanda yang sangat menghibur kami. Pak Suhardi suka bercerita tentang sejarah-sejarah sastra. Ia juga sering bercerita yang diluar konteks materinya dan itu diceritakan berulang-ulang. Saat ujian pak Suhardi meninggalkan kami beberapa saat, sehingga kami bisa sedikit bekerja sama menjawab soal yang sulit, memang ini adalah cara yang tidak boleh diikuti tapi kami tidak tahu lagi bagaimana cara untuk menjawab soal yang susah. Nilai yang didapat juga lumayan A-.

Mata kuliah kedua di hari kamis ini adalah mata kuliah pendidikan agama. Ibu Zaitun adalah dosen mata kuliah ini. Dosen agama yang baik, tegas, dan gak sombong. Bu Zaitun pernah mengajarkan kami cara menjadi seorang guru yang bisa berbicara di depan kelas menyampaikan materi. Walaupun jantung ini berdebar kencang saat di suruh tampil ke depan bagaikan seorang guru yang sedang mengajar di kelas, tetapi alhamdulillah aku bisa melakukannya dan ibu pun mengatakan bahwa penampilanku menyampaikat materi sudah bagus. Di kelas, ibu Zaitun juga memberikan kami pengetahuan tentang agama yang kami sedikit dapatkan di sekolah dulu. Belajar mengaji, praktek shalat, dan belajar sejarah yang ada di pulau Penyengat. Setelah ujian semester, kami semua bersama-sama pergi ke pulau Penyengat.  Di sana ibu Zaitun menyuruh kami untuk menyetor sepuluh surat pendek untuk nilai tambahan, kami juga makan bersama dan shalat bersama.

Dan dosen yang terakhir mengajar pada mata kuliah di semester satu ini adalah pak Wagiman. Pak Wagiman mengajar pada mata kuliah Pengantar pendidikan di semester satu dan psikologi pendidikan pada semester dua. Dosen yang bisa dibilang sudah tua dibandingkan dosen yang lainnya, tetapi semangat mengajar dan ketepatan waktunya masuk ke kelas untuk mengajar itu harus di contoh. Karena tidak semua dosen bisa datang tepat waktu untuk mengajar di kelas. Pak Wagiman itu suka sekali bertanya tentang materi yang sudah di bahas di kelas pada pertemuan sebelumnya. Mengadakan presentasi perkelompok pada mahasiswanya yang benar-benar harus memperhatikan cara menyampaikan materi dan menjawab pertanyaan dari anggota kelompok yang lain. Mata kuliah yang santai materinya itu dengan pak Wagiman, karena selain materinya yang bisa menggunakan nalar dan pendapat kita untuk menjawabnya. Pernah pada saat masuk mata kuliahnya, aku dan temanku tidak hadir karena kami berdua mendapat kabar bahwa pak Wagiman tidak hadir. Tetapi, saat pukul dua belas siang kami mendapat kabar bahwa beliau masuk ke kelas untuk mengajar. Dengan keadaan panik, kami cepat-cepat segera pergi ke kampus walaupun jarak kampus dan rumah kami sangat jauh. Sampai di kampus, kami berlari ke kelas. Walaupun terlambat, kami memberanikan diri untuk masuk ke kelas. Saat menyalami pak Wagiman, beliau bertanya kenapa kami terlambat dan apa karena bus ? Kami pun menjawab “iya”, bohong agar tetap bisa mengikuti mata kuliahnya. Tiba-tiba beberapa menit kemudian, di kampus turun hujan. Tidak sadar kami pergi meminta izin keluar untuk menyelamatkan helm kami agar tidak basah. Saat kembali lagi ke kelas, kami baru sadar bahwa tadi kami terlambat dengan alasan bus yang telat, tetapi sekarang kami meminta izin keluar dan berlari menyelamatkan helm kami dari hujan. Apakah naik bus juga memakai helm ? Maafkan kami ya pak telah berbohong.

Di semester dua ini, tentunya dosen yang mengajar untuk semester ini berganti. Di semester ini, lebih banyak dosen perempuannya dibandingkan dosen laki-laki. Dan tentunya kami sangat beruntung karena bisa kembali berjumpa dengan pak Wagiman dengan mata kuliah psikologi pendidikan. Di semester dua ini, sepertinya beliau lebih tegas lagi dalam mengajar. Bagaimana tidak, setiap pertemuan pak Wagiman selalu bertanya tentang materi yang sebelumnya dan yang sedang di pelajari pada saat itu. Aku yang duduk sebelah Ranti (temanku) selalu saja dibuat jantungan, karena terkadang kami tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pak Wagiman dan paling lucu si Ranti, ia sampai keringat dingin menunggu namanya untuk di panggil menjadi giliran yang menjawab pertanyaan dari pak Wagiman. Tugas kelompok yang ia berikan pun sedikit berbeda dari tugas kelompok pada saat di semester satu. Di semester dua ini, presentasi kelompok dengan pak Wagiman ini seperti kami sedang melakukan seminar atau sidang menuju wisuda. Duduk di depannya, ditanya satu persatu, dan menurut pendapat masing-masing. Bagi yang mempelajari materi yang dibuat pasti bisa menjawabnya.

Lalu ada dosen cantik dan masih muda yang namanya bu Indah Pujiastuti. Bu Indah mengajar dengan dua mata kuliah yaitu mata kuliah belajar dan pembelajaran serta mata kuliah fonologi bahasa Indonesia. Tidak tau kenapa, bu Indah ini menurutku baik dan bersahabat. Di kelas, ia bisa membuat mahasiswanya menjadi nyaman dan tidak tegang mengikuti perkuliahan dengannya. Aku merasa ibu Indah sengaja bersikap seperti itu agar mahasiswanya bisa santai belajar di kelas. Bu Indah juga lumayan hafal dengan nama-nama mahasiswanya di kelas, apalagi dengan mahasiswa yang menurutnya aktif di kelas. Ia juga pernah membuat permainan yang masih menggunakan materi dalam belajar. Jadi, bukan sekedar main-main saja, tetapi juga sambil belajar. Saat bu Indah membuat permainan, aku memilih kelompok speaker yang merupakan materi mendengar. Kelompok ini mendapat misi mendengarkan percakapan seseorang yang akan di putarkan dan kami harus bisa menebak berapa kali kata “motivasi belajar” diucapkan dalam rekaman percakapan tersebut. Aku pun mendengarkan dengan baik-baik. Setelah rekaman itu selesai, aku pun yakin dan menjawab enam kali kata “motivasi belajar” itu diucapkan. Teman-teman dalam kelompokku tidak ada yang sependapat denganku, kalau hampir ada yaitu Yorendi yang menjawab tujuh kali dan yang lainnya ada yang menjawab sepuluh kali. Aku bingung, kenapa mereka bisa menjawab sepuluh kali. Jelas-jelas dalam rekaman itu hanya enam kali kata itu diucapkan. Akhirnya, kami sepakat untuk meminta bu Indah memutar kembali rekaman percakapan itu. Kami pun benar-benar mendengarkannya dan setelah selesai banyak dari mereka yang sepakat dengan jawabanku yaitu enam kali. Kami pun memutuskan menjawabnya sebanyak enak kali kata “motivasi belajar” itu di ucapkan. Bu Indah pun membenarkan jawaban kami, aku senang sekali karena aku tidak salah mendengar. Di kelas, bu Indah juga sepertinya hafal dengan namaku. UTS yang baru saja kami lakukan ada enaknya dan ada tidaknya. Mengapa ? Karena Bu Indah memberikan soal yang menurutku sedikit membingungkan pada mata kuliah fonologi bahasa Indonesia. Kalau UTS belajar dan pembelajaran sih benar-benar menggunakan pemikiran kami. Mudah-mudahan nilainya memuaskan.

Mata kuliah prosa fiksi dan drama ini yang menjadi dosen pengajarnya adalah bu Tessa Dwi leoni. Bu Tessa ini dosen yang lebih muda satu tahun di bawah umur bu Indah. Bu Tessa dosen yang cantik dan pintar. Tapi, maaf ya buk. Menurut cerita salah satu teman saya, bu Tessa ini termasuk dosen yang sombong. Katanya, pernah saat berjumpa dengan beliau mereka menyapanya tetapi bu Tessa hanya diam tanpa membalas sapaannya. Aku juga sedikit kesal dengannya, karena pada saat itu ia menyuruh kelompokku untuk presentasi di depan. Padahal, pada saat itu kami belum memiliki materi yang lengkap dikarenakan kami tidak diberikan materi yang akan dipresentasikan. Kami pun maju dengan membawa sedikit materi yang kami sudah sempat cari sebelumnya dalam waktu satu jam. Tibalah pada sesi tanya jawab yang biasa dilakukan setelah menyampaikan materi. Dengan sedikit materi yang kami punya, kami pun menjawab dengan seadanya. Ternyata bu Tessa mengatakan apa yang kami jawab itu salah, tetapi dengan nada yang sedikit meremehkan kami pun kurang menyukainya. Kami diam, tidak berbicara sedikit pun. Padahal, kalau saja kami tahu materinya tentu saja kami akan mempersiapkannya. Kurang nyaman dengan cara mengajarnya, yang kadang membuatku bingung.

Kalau dengan dosen yang satu ini, seperti kami sedang naik wahana roller coaster. Bagaimana tidak, setiap hari aku dan teman-teman dikelas dihadapkan pada situasi yang menegangkan. Mata kuliah tradisi Melayu dengan dosennya bu Tetty Kumalasari, beliau itu dikabarkan merupakan salah satu dosen yang tidak disukai oleh banyak mahasiswa. Karena selain mukanya yang jarang tersenyum, juga karena beliau itu suka marah dan pelit nilai. Aku juga mulai sedikit merasakannya, karena bu Tetty ini adalah PA-ku. Jadi aku sedikit tahu sifatnya. Beliau sulit ditemui karena sering tidak berada di kampus. Pernah pada saat mau UTS, beliau menyuruh mengumpulkan tugas dan lirs sebelum ujian berlangsung. Karena ketua tingkatnya belum datang, jadi aku yang mengumpulkannya. Aku pun meminta temanku untuk menemani mengantar tugas dan lirs yang ia suruh ke ruang dosen di mejanya. Padahal ia yang menyuruh untuk mengumpulkannya, tetapi raut wajahnya seperti orang marah atau tidak suka. Aku pun bingung untuk menanganinya, dengan sedikit terpaksa aku pun menuruti apa yang ia perintahkan. Kesal pada saat itu, ingin saja aku meninggalkan begitu saja kumpulan tugas itu di mejanya. Meminta tanda tangannya pun, kami harus melihat wajahnya yang selalu merengut.

Bu Isniani Leo Shanty, dosen yang bisa dibilang seniorjuga seperti pak Wagiman. Beliau mengajar pada mata kuliah berbicara. Beliau walaupun sudah tidak muda lagi, tetapi beliau punya toleransi untuk mahasiswa baru seperti kami. Menurutnya, kami ini masih belajar untuk beradaptasi dengar cara belajar di kampus yang berbeda jauh pada saat kami sekolah. Bu Shanty sangat sibuk sekali, sehingga beliau sering tidak dapat hadir untuk mengajar. Terkadang, bila hadir beliau tidak bisa berlama-lama untuk menyampaikan materi kepada kami. Kami semua memaklumi kesibukan bu Shanty.  Waktu pertama kali presentasi, kelompokku yang maju terlebih dahulu. Menyampaikan materi tentang diksi yang sebenarnya kami juga belum mengerti. Tetapi setelah selesai presentasi, beliau memberikan respon yang baik dan pujian kepada kami. Karena kami sebagai mahasiswa baru yang belum banyak dijelaskan materi dengannya, tetapi bisa mempresentasikan materi dengan baik di depan kelas. Itu semua membuat kami menjadi senang, terkadang ada dosen yang suka marah karena kami mempresentasikan materi kurang lengkap. Pada waktu UTS kemarin, kami ujiannya gabung bersama anak H2. Karena pada jadwal kami, hari kamis itu adalah tanggal merah. Sehingga jadwal ujian kami pun di percepat menjadi hari Rabu.

Dan yang terakhir bu Titik Dwi Ramthi, dosen sekaligus ketua jurusan prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Bu Titik mengajar dengan baik, cara berbicaranya yang lembut, dan tutur katanya juga sopan. Aku paling suka pada saat belajar sambil mendengarkan sebuah musik. Beliau juga menyukai itu, pernah beliau memberikan sebuat materi dengan di sisipkan beberapa alunan nada memutarkan lagu yang itu semua sangat membuat pikiran menjadi santai. Yang paling aku suka adalah saat ibu menyuruh kami untuk berdiri dan berpasangan, kami harus mengekspresikan wajah senang, sedih, takut, marah. Seperti seseorang yang sedang ikut chastting untuk menjadi artis dan bintang iklan. Aku sedih karena aku selalu tidak terpilih untuk maju sebagai orang yang berhasil berekspresi, padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin agar dapat menghayati berbagai macam ekspresi. Ya sudahlah tidak apa-apa, mungkin menurut bu Titik aku harus lebih belajar lagi. UTS dengan bu Titik lumayan membuat tenang sih, karena tidak ada ujian tertulis. Kami hanya di minta untuk mengumpulkan tugas individu dan kelompok, semacam tugas take home. Untuk UAS juga kami hanya mengumpulkan sebuah video. Tapi sayangnya, bu Titik tidak berada di kampus sehingga kami semua harus mengumpulkan tugas lewat sosial media yaitu sebuah blog.

Pengalaman dengan dosen di kampus masih belum terlalu banyak. Karena sibuknya waktu dosen yang dipakai untuk seminar kakak tingkat yang akan segera wisuda. Sebagian dosen ada yang dekat dengan mahasiswanya dan ada sebagian dosen juga yang hanya sekedar mengajar di mata kuliah tertentu. Di semester dua ini pastinya kami belum banyak mengenal dan memiliki banyak pengalaman dengan dosen. Tetapi, setidaknya kami mempunya beberapa cerita bersama dosen mata kuliah untuk satu tahun ini. Maafkan kami pak, bu, karena kami pernah berbohong. Kami harap untuk kedepannya, kami bisa memperbaiki kesalahan kami dan semangat untuk melakukan perkuliahan layaknya mahasiswa yang seharusnya.

3 komentar: