Nama : Fitri Mahendi Prameswari
NIM : 150388201075
NIM : 150388201075
Kelas : H-03
Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Tugas : Membuat karangan cerpen
Mata Kuliah : Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia
”PILIHAN”
Oleh Toha Mohtar
Oleh Toha Mohtar
Pagi ini
rencana dalam kepalaku sudah rapi. Menghampiri Didi di rumahnya, ke Gelanggang
Remaja ikut merebut Piala Kejuaraan sekabupaten, pesta di sekolah, menerima
rapor, esoknya pulang liburan dengan mengayuh sepeda sejauh seratus tiga puluh
kilometer. Tetapi, keluar kamar mandi bibiku sudah menghadang di depan
pintu. Wajahnya tidak cerah.
“Sini, Dam!
Barusan Om Herman kemari. Ada kabar Samsul sakit. Sudah empat minggu ini di
rumah sakit, kena thypus.”
Mendadak
kepalaku seprti kosong, lenyap semua rencana, pelan-pelan terbayang Samsul
adikku.
“Lho, kok
diam. Cepat pakai baju. Siapkan yang perlu kau bawa. Kita berangkat dengan
kijang Om Herman pukul delapan.”
“kok baru
sekarang beritanya, bi?”
“Tahulah!
Barangkali ayahmu cemas kalau akan mengganggu ulangan umummu.”
Dari kamar aku
masih dengar suara bibi, “Ini kusiapkan surat untuk Kepala Sekolah, mohon absen
dan tidak bisa ikut main bulu tangkis. Ada cadanganya, kan?”
Aku turun
halaman dengan surat bibi di tangan, sementara suaranya masih mengejar dari
belakang, “Jangan terlalu lama, lh.o, Dam! Waktu besuk pukul sebelas.”
Jalanan masih
sepi. Satu dua orang ibu-ibu mencegat bakul sayuran, beberapa becak di tikungan
menanti muatan. Didi terkejut melihat kedatanganku di pagi buta dengan napasku
yang naik turun.
Kuceritakan seluruhnya kepada dia, kutunjukkan surat bibi, dan bahwa dengan amat
menyesal aku tidak bias memperkuat regu. Didi mendengarkan dengan diam,
kepalanya menunduk, ia tidak segera berbicara. Sejak semula ia mengharapkan
piala idaman itu terutama melalui permainanku.
“Dam!”,
katanya sungguh-sungguh, “Kagetku mendengar sakitnya Samsul tidak kurang dari
yang kau alami ketika kau dengar pertama kali. Kau bilang ia sudah empat minggu
dalam rawatan rumah sakit. Bahaya yang menakutkan itu sudah lewat, tak perlu
kau risaukan, Samsul selamat, bahkan engkau harus bersyukur!”
“Benar, Di?”
“Lho, apa
gunanya aku jadi anaknya Dokter Harun?” Didi bisa tertawa sekarang,dan hatiku
tidak begitu tegang lagi.
Didi diam, aku
juga diam. Kukira banyak yang hendak ia katakan, dan hendak menimbang mana yang
mesti didahulukan.
“Yang paling
penting hari ini,” katanya, “Engkau bertemu Samsul tepat waktunya ketika pintu
besuk pasien dibuka, pukul sebelas.” Didi berhenti, memberi waktu bagiku untuk
memahami ucapannya.
“Tetapi itu
itdak berarti bahwa engkau harus berangkat bersama Paman dan Bibi dengan kijang
Om Herman, kan?” Di sini Didi berhenti lagi, dan aku mulai meraba ke mana
sesungguhnya arah pembicaraannya.
“Maksudmu?”
“Engkau
berangkat bersama kami dengan mobil lain. Leila, Tommy dan Songkar pasti ingin
menjenguk Samsul. Kita berangkat pukul sembilan dengan sopir Mang Karta.”
“sopir
ayahmu?”
“Ya! Dia bekas
seorang sopir ambulans di kota ini. Dia bisa sampai di kotamu dalam waktu dua
jam, tidak kurang.”
“Tetapi,”
Didi memotong,
“Aku akan bicara dengan Paman dan Bibi serta Om Herman. Aku yang urus kendaraan
dan sopirnya, itu tugasku. Tugasmu turun lapangan pukul delapan, mengalahkan
lawanmu jangan lebih dari empat puluh lima menit.”
Didi menatap mataku seperti ia
menantikan pikiranku.
“Dam! Kalau
memang masih ada pilihan, kenapa kita tidak ambil yang terbaik. Baik untukmu,
baik untuk Samsul, baik untuk teman-teman, baik untuk kita semua.”
Kulurkan
tanganku, ia menjabatnya erat sekali. Surat bibiku kuremas-remas dan kubuang
dalam keranjang sampah.
Aku turun
lapangan pukul delapan tepat, barangkali sama waktunya dengan keberangkatan
kijang Om Herman. Didi tak kulihat di antara teman-teman yang mengelilingi
lapangan. Di atas kulihat wartawan radio mulai menyiarkan pertandingan final
ini untuk pertama kali. Lawanku bertubuh tegap dan tinggi dengan pukulan
bolanya yang amat keras dan kencang.
Aku sudah
kenal dengan permainan anak ini. Dalam beberapa menit bertanding, aku sudah
kenal gayanya. Ia tidak begitu peduli buat tahu kemampuan lawan, senang
mengundang tepuk tangan, dan amat boros dengan tenaga. Pada babak pertama ia
main menggebu-gebu dengan loncatanya yang amat garang. Ia terus meniggalkanku
dari angka ke angka, dan aku hanya perlu menempatkan bola yang membuatnya terus
bergerak. Menjelang akhir babak, ia mulai tampak loyo. Keringatnya deras
mengalir dan pukulannya tak lagi tajam. Ini membuatku tidak sulit mengejar
ketinggalanku, dan aku berhasil menutup babak pertama ini dengan kemenangan
tipis. Tetapi babak kedua lawanku sudah kehabisan segalanya, dan ia runtuh
karena kesalhan sendiri. Perlawanan itu berakhir lebih cepat dari yang Didi
minta.
Didi
menyambutku di luar lapangan sambil berbisik, “Beres!Cuma Mang Karta
berhalangan. Jangan cemas, ada yang lain.”
Sesudah
membersihkan keringat dan ganti baju, kami berempat berjalan menuju mobil.
Betapa aku terkejut melihat Dokter Harun duduk di belakang setir. Ia memberiku
salam dengan jabatan tangan lalu mematikan radio.
Didi tersenyum-senyum.
“Wah, hebat
juga kalian, disiarkan langsung lewat radio. Kukira engkau kalah mulanya, Dam!”
Kami berangkat
pukul sembilan masih kurang sepuluh menit. Barangkali kijang Om Herman 40
kilometer di depan kami.
Didi benar.
Ayahnya lebih tampak seorang jago balap daripada seorang dokter. Di bawah
tangannya, mobil bergera dengan mulus, mesinnya yang 2000 cc menarik tanpa
suara. Di luar kota, di bulak-bulak tebu yang sepi dan panjang itu mobil
melncur seperti anak panah. Jarum kecepatan lebih banyak di atas angka seratus.
Kami memasuki
halaman rumah sakit sebelum pukul sebelas. Di tempat parkir aku tidak menemukan
kijang Om Herman.
Didi dan
anak-anak disuruh menunggu di luar, aku di bawa Dokter Harun memasuki ruang
dokter. Ia menemui seorang sahabatnya. Seorang jururawat membimbingku ke kamar
Samsul. Penjelasan yang diberikan jururawat sama dengan dugaan Didi. Kendati
tubuh Samsul kurus kering dan rambutnya hampir rontok semua, ia sudah boleh
dianggap sembuh. Meski demikian, menetes juga air mataku waktu menatapnya untuk
pertam kali.
“Mas Dam
menang, ya?”, sambutnya dengan uluran tangannya yang telah tipis itu.
“Dari mana kau
tahu, Sul?”, tanyaku dengan senyum paksa.
Samsul menarik radio saku Sanyo yang kukirim padanya lima bulan yang lalu, dari balik bantal.
“Regumu juga
menang dan mendapatkan piala. Selamat, ya! Kalau tidak sakit aku sudah pasti
nonton.”
Lonceng besuk
berbunyi lantang. Para pengunjung memasuki ruangan dengan suara langkah kaki
terseret di atas ubin. Waktu aku menoleh, kulihat Paman, Bibi, Om Herman, Ayah,
dan Ibu berduyun-duyun mendekati depan Samsul. Semua terkejut melihat aku sudah
di dalam.
“Dam!”, seru
Paman, “kau naik burok, ya? Kan belum lama kami dengar kau ikut main.” Mereka
itu ternyata juga mendengarkan siaran radio di mobil. Dokter Harun muncul dari
seberang diikuti Didi dan teman-temannya. Mereka bersalaman, dan barulah mereka
mengerti bagaimana kami bisa mengejar mereka.
Betapa senang
hatiku pada hari itu. Aku tidak mengecewakan keluarga, aku bisa menghabiskan
hari liburku untuk ikut mendampingi Samsul sampai sembuh sama sekali. Didi
benar. Ia telah menolongku untuk mengambil pilihan yang terbaik dengan
menggunakan kerja pikirannya yang tidak tergesa-gesa.
Menganalisis cerpen “Pilihan” karya Toha Mohtar
Unsur intrinsik :
·
Tema
Seorang anak
yang dihadapkan pada beberapa pilihan yang sulit, yang mana harus memilih
sebuah pilihan yang terbaik untuknya dan semua orang.
·
Alur
Maju. Karena jalan
ceritanya tidak menceritakan masa lalu, tetapi masa sekarang yang sedang
dijalani. Dalam cerpen ini memiliki pelaku lebih sedikit sehingga hubungan
antarpelakusaling berhubungan. Tiap-tiap cerita, tokoh, perilaku, dan peristiwanya
merupakan bagian yang telah dirancang baik-baik, searah, dan seimbang.
·
Latar
-
Latar tempat
1)
Di rumah sakit
2)
Di lapangan pertandingan bulu tangkis
-
Latar waktu
Pagi hari
-
Latar suasana
1)
Bimbang
2)
Senang
3)
Terharu
·
Tokoh dan
penokohan
1. Dam
Sifatnya atau wataknya belum bisa menentukan sebuah
pilihan yang terbaik, selalu bimbang, dan orangnya penurut.
2. Bibi Dam
Sifatnya agak kasar, suka menyuruh Dam dengan
perkataan kasar.
3. Didi
Sifatnya baik, suka menolong, bijak dalam menyikapi
sesuatu, dapat mencari solusi yang terbaik seperti mencari solusi untuk Dam dengan
pilihan yang lebih baik.
4. Samsul
Sifatnya baik, tabah. Walaupun ia sakit, ia tetl ap
menegur Dam dan menguurkan tangannya sebagai tanda selamat atas kemenangan Dam.
·
Sudut pandang
Orang pertama
sebagai pelaku utama, karena tokoh utama memakai kata (aku) untuk menggambarkan
atau menceritakan dirinya.
·
Gaya bahasa
Gaya bahasa
(majas) penegasan yaitu gaya bahasa klimaks karena melukiskan/menguraikan suatu
peristiwa secara berturut-turut dan semakin lama maka ceritanya akan semakin
memuncak/meningkat.
·
Konflik
1. Dam mendengar berita dari bibinya bahwa Samsul
(adiknya) masuk rumah sakit karena terkena penyakit thypus. Padahal besok ia
akan mewakili sekolahnya dalam pertandingan bulu tangkis.
2. Dam harus membuat pilihan yang terbaik untuknya
dan semua orang. Akhirnya, Dam menjadi bimbang dan sulit menentukan sebuah
pilihan.
3.
Dam terburu-buru mengambil suatu pilihan tanpa
berpikir panjang.
·
Amanat
Segala sesuatu
dalam menentukan suatu pilihan, kita tidak boleh terburu-buru dan harus dengan
kepala dingin agar dapat memilih suatu pilihan yang terbaik untuk semua orang
dan tidak mengecewakannya.
Unsur ekstrinsik :
Biografi pengarang
Toha Mohtar
Toha Mohtar merupakan sastrawan
Indonesia yang dikelompokkan sebagai sastrawan angkatan 1950 sampai 1960-an.
Toha Mohtar lahir di Kediri, Jawa Timur, 17 September 1926 dan meninggal di
Jakarta, 17 Mei 1992. Pendidikan terakhirnya hanya sampai dibangku SMA kelas
dia, Kediri tahun 1947. Toha Mohtar pernah menjadi redaktur majalah RIA
(1952-1953). Beliau juga pernah berprofesi sebagai guru menggambar di Taman
Dewasa, Perguruan Taman Siswa, Jakarta (1953-1959). Keahlian menggambar dan
kemampuannya menulis karya sastra bermutu membuat dua komik karya Toha Mohtar
memang terasa berbeda. Ia membuat sebuah cerita komik berbobit sastra dan komik
bertema perjuangan ini sangat berbeda denga model komik perjuangan yang sudah
ditulis sebelumnya. Salah satu ciri dari komik perjuangan baik fiktif maupun
yang diangkat dari kisah nyata. Selain sastrawan besar, Toha Mohtar juga
seorangkomikus handal. Uniknya dilingkungan sekitar sosok Toha Mohtar lebih
dikenal dengan ilustrator daripada seorang pengarang. Berawal dari bekal
pengalaman ketika mengembara di zaman revolusi tersebut oleh Toha Mohtar
dimanfaatkan untuk menciptakan karya novel yang berjudul Pulang. Akhirnya dikembangkan
dengan menjadikan film dari alur cerita novel tersebut yang disutradarai oleh
Basuki Effendi dan di sinetronkan disalah satu stasiun televisi yaitu TPI yang
dibintangi oleh Turino Djunaidi, kemudian diterbitkan di Malaysia serta di
terjemahkan ke berbagai bahasa asing di dunia.
Karya Toha Mohtar :
- · Pulang (1958)
- · Daerah Tak Bertuan (1963)
- · Kabut Rendah (1968)
- · Bukan Karena Aku (1968)
- · Jayamada (bersama Soekanto S.A 1971)
- · Antara Wilis dan Gunung Kelud (1989)
Penghargaan yang diraih :
- Hadiah Sastra Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional pada tahun 1960, diberikan atas penulisan novel yang berjudul “Pulang” (1958).
- Hadiah Sastra Yamin pada tahun 1964, diberikan atas penulisan novel dengan judul “Daerah Tak Bertuan” (1963).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar