Selasa, 17 Mei 2016

Menganalisis Cerpen

Nama            : Fitri Mahendi Prameswari
NIM              : 150388201075
Kelas             : H-03
Jurusan         : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas        : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Tugas            : Membuat karangan cerpen
Mata Kuliah : Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia


”PILIHAN”
Oleh Toha Mohtar

Pagi ini rencana dalam kepalaku sudah rapi. Menghampiri Didi di rumahnya, ke Gelanggang Remaja ikut merebut Piala Kejuaraan sekabupaten, pesta di sekolah, menerima rapor, esoknya pulang liburan dengan mengayuh sepeda sejauh seratus tiga puluh kilometer. Tetapi, keluar kamar mandi bibiku sudah menghadang  di depan pintu. Wajahnya tidak cerah.

“Sini, Dam! Barusan Om Herman kemari. Ada kabar Samsul sakit. Sudah empat minggu ini di rumah sakit, kena thypus.”

Mendadak kepalaku seprti kosong, lenyap semua rencana, pelan-pelan terbayang Samsul adikku.

“Lho, kok diam. Cepat pakai baju. Siapkan yang perlu kau bawa. Kita berangkat dengan kijang Om Herman pukul delapan.”

“kok baru sekarang beritanya, bi?”

“Tahulah! Barangkali ayahmu cemas kalau akan mengganggu ulangan umummu.”

Dari kamar aku masih dengar suara bibi, “Ini kusiapkan surat untuk Kepala Sekolah, mohon absen dan tidak bisa ikut main bulu tangkis. Ada cadanganya, kan?”

Aku turun halaman dengan surat bibi di tangan, sementara suaranya masih mengejar dari belakang, “Jangan terlalu lama, lh.o, Dam! Waktu besuk pukul sebelas.”

Jalanan masih sepi. Satu dua orang ibu-ibu mencegat bakul sayuran, beberapa becak di tikungan menanti muatan. Didi terkejut melihat kedatanganku di pagi buta dengan napasku yang naik turun.

Kuceritakan seluruhnya kepada dia, kutunjukkan surat bibi, dan bahwa dengan amat menyesal aku tidak bias memperkuat regu. Didi mendengarkan dengan diam, kepalanya menunduk, ia tidak segera berbicara. Sejak semula ia mengharapkan piala idaman itu terutama melalui permainanku.

“Dam!”, katanya sungguh-sungguh, “Kagetku mendengar sakitnya Samsul tidak kurang dari yang kau alami ketika kau dengar pertama kali. Kau bilang ia sudah empat minggu dalam rawatan rumah sakit. Bahaya yang menakutkan itu sudah lewat, tak perlu kau risaukan, Samsul selamat, bahkan engkau harus bersyukur!”

“Benar, Di?”

“Lho, apa gunanya aku jadi anaknya Dokter Harun?” Didi bisa tertawa sekarang,dan hatiku tidak begitu tegang lagi.

Didi diam, aku juga diam. Kukira banyak yang hendak ia katakan, dan hendak menimbang mana yang mesti didahulukan.

“Yang paling penting hari ini,” katanya, “Engkau bertemu Samsul tepat waktunya ketika pintu besuk pasien dibuka, pukul sebelas.” Didi berhenti, memberi waktu bagiku untuk memahami ucapannya.

“Tetapi itu itdak berarti bahwa engkau harus berangkat bersama Paman dan Bibi dengan kijang Om Herman, kan?” Di sini Didi berhenti lagi, dan aku mulai meraba ke mana sesungguhnya arah pembicaraannya.

“Maksudmu?”

“Engkau berangkat bersama kami dengan mobil lain. Leila, Tommy dan Songkar pasti ingin menjenguk Samsul. Kita berangkat pukul sembilan dengan sopir Mang Karta.”

“sopir ayahmu?”

“Ya! Dia bekas seorang sopir ambulans di kota ini. Dia bisa sampai di kotamu dalam waktu dua jam, tidak kurang.”

“Tetapi,”

Didi memotong, “Aku akan bicara dengan Paman dan Bibi serta Om Herman. Aku yang urus kendaraan dan sopirnya, itu tugasku. Tugasmu turun lapangan pukul delapan, mengalahkan lawanmu jangan lebih dari empat puluh lima menit.”

Didi menatap mataku seperti ia menantikan pikiranku.

“Dam! Kalau memang masih ada pilihan, kenapa kita tidak ambil yang terbaik. Baik untukmu, baik untuk Samsul, baik untuk teman-teman, baik untuk kita semua.”

Kulurkan tanganku, ia menjabatnya erat sekali. Surat bibiku kuremas-remas dan kubuang dalam keranjang sampah.

Aku turun lapangan pukul delapan tepat, barangkali sama waktunya dengan keberangkatan kijang Om Herman. Didi tak kulihat di antara teman-teman yang mengelilingi lapangan. Di atas kulihat wartawan radio mulai menyiarkan pertandingan final ini untuk pertama kali. Lawanku bertubuh tegap dan tinggi dengan pukulan bolanya yang amat keras dan kencang.

Aku sudah kenal dengan permainan anak ini. Dalam beberapa menit bertanding, aku sudah kenal gayanya. Ia tidak begitu peduli buat tahu kemampuan lawan, senang mengundang tepuk tangan, dan amat boros dengan tenaga. Pada babak pertama ia main menggebu-gebu dengan loncatanya yang amat garang. Ia terus meniggalkanku dari angka ke angka, dan aku hanya perlu menempatkan bola yang membuatnya terus bergerak. Menjelang akhir babak, ia mulai tampak loyo. Keringatnya deras mengalir dan pukulannya tak lagi tajam. Ini membuatku tidak sulit mengejar ketinggalanku, dan aku berhasil menutup babak pertama ini dengan kemenangan tipis. Tetapi babak kedua lawanku sudah kehabisan segalanya, dan ia runtuh karena kesalhan sendiri. Perlawanan itu berakhir lebih cepat dari yang Didi minta.

Didi menyambutku di luar lapangan sambil berbisik, “Beres!Cuma Mang Karta berhalangan. Jangan cemas, ada yang lain.”

Sesudah membersihkan keringat dan ganti baju, kami berempat berjalan menuju mobil. Betapa aku terkejut melihat Dokter Harun duduk di belakang setir. Ia memberiku salam dengan jabatan tangan lalu mematikan radio.

Didi tersenyum-senyum.

“Wah, hebat juga kalian, disiarkan langsung lewat radio. Kukira engkau kalah mulanya, Dam!”

Kami berangkat pukul sembilan masih kurang sepuluh menit. Barangkali kijang Om Herman 40 kilometer di depan kami.

Didi benar. Ayahnya lebih tampak seorang jago balap daripada seorang dokter. Di bawah tangannya, mobil bergera dengan mulus, mesinnya yang 2000 cc menarik tanpa suara. Di luar kota, di bulak-bulak tebu yang sepi dan panjang itu mobil melncur seperti anak panah. Jarum kecepatan lebih banyak di atas angka seratus.

Kami memasuki halaman rumah sakit sebelum pukul sebelas. Di tempat parkir aku tidak menemukan kijang Om Herman.

Didi dan anak-anak disuruh menunggu di luar, aku di bawa Dokter Harun memasuki ruang dokter. Ia menemui seorang sahabatnya. Seorang jururawat membimbingku ke kamar Samsul. Penjelasan yang diberikan jururawat sama dengan dugaan Didi. Kendati tubuh Samsul kurus kering dan rambutnya hampir rontok semua, ia sudah boleh dianggap sembuh. Meski demikian, menetes juga air mataku waktu menatapnya untuk pertam kali.

“Mas Dam menang, ya?”, sambutnya dengan uluran tangannya yang telah tipis itu.

“Dari mana kau tahu, Sul?”, tanyaku dengan senyum paksa.

Samsul menarik radio saku Sanyo yang kukirim padanya lima bulan yang lalu, dari balik bantal.

“Regumu juga menang dan mendapatkan piala. Selamat, ya! Kalau tidak sakit aku sudah pasti nonton.”

Lonceng besuk berbunyi lantang. Para pengunjung memasuki ruangan dengan suara langkah kaki terseret di atas ubin. Waktu aku menoleh, kulihat Paman, Bibi, Om Herman, Ayah, dan Ibu berduyun-duyun mendekati depan Samsul. Semua terkejut melihat aku sudah di dalam.

“Dam!”, seru Paman, “kau naik burok, ya? Kan belum lama kami dengar kau ikut main.” Mereka itu ternyata juga mendengarkan siaran radio di mobil. Dokter Harun muncul dari seberang diikuti Didi dan teman-temannya. Mereka bersalaman, dan barulah mereka mengerti bagaimana kami bisa mengejar mereka.


Betapa senang hatiku pada hari itu. Aku tidak mengecewakan keluarga, aku bisa menghabiskan hari liburku untuk ikut mendampingi Samsul sampai sembuh sama sekali. Didi benar. Ia telah menolongku untuk mengambil pilihan yang terbaik dengan menggunakan kerja pikirannya yang tidak tergesa-gesa.



Menganalisis cerpen “Pilihan” karya Toha Mohtar
Unsur intrinsik :
·         Tema
Seorang anak yang dihadapkan pada beberapa pilihan yang sulit, yang mana harus memilih sebuah pilihan yang terbaik untuknya dan semua orang.

·         Alur
Maju. Karena jalan ceritanya tidak menceritakan masa lalu, tetapi masa sekarang yang sedang dijalani. Dalam cerpen ini memiliki pelaku lebih sedikit sehingga hubungan antarpelakusaling berhubungan. Tiap-tiap cerita, tokoh, perilaku, dan peristiwanya merupakan bagian yang telah dirancang baik-baik, searah, dan seimbang.

·         Latar
-        Latar tempat
1)        Di rumah sakit
2)        Di lapangan pertandingan bulu tangkis

-        Latar waktu
Pagi hari

-        Latar suasana
1)      Bimbang
2)      Senang
3)      Terharu

·         Tokoh dan penokohan
1.       Dam
Sifatnya atau wataknya belum bisa menentukan sebuah pilihan yang terbaik, selalu bimbang, dan orangnya penurut.

2.       Bibi Dam
Sifatnya agak kasar, suka menyuruh Dam dengan perkataan kasar.

3.       Didi
Sifatnya baik, suka menolong, bijak dalam menyikapi sesuatu, dapat mencari solusi yang terbaik seperti mencari solusi untuk Dam dengan pilihan yang lebih baik.

4.       Samsul
Sifatnya baik, tabah. Walaupun ia sakit, ia tetl ap menegur Dam dan menguurkan tangannya sebagai tanda selamat atas kemenangan Dam.

·         Sudut pandang
Orang pertama sebagai pelaku utama, karena tokoh utama memakai kata (aku) untuk menggambarkan atau menceritakan dirinya.

·         Gaya bahasa
Gaya bahasa (majas) penegasan yaitu gaya bahasa klimaks karena melukiskan/menguraikan suatu peristiwa secara berturut-turut dan semakin lama maka ceritanya akan semakin memuncak/meningkat.

·         Konflik
1.    Dam mendengar berita dari bibinya bahwa Samsul (adiknya) masuk rumah sakit karena terkena penyakit thypus. Padahal besok ia akan mewakili sekolahnya dalam pertandingan bulu tangkis.
2.   Dam harus membuat pilihan yang terbaik untuknya dan semua orang. Akhirnya, Dam menjadi bimbang dan sulit menentukan sebuah pilihan.
3.       Dam terburu-buru mengambil suatu pilihan tanpa berpikir panjang.

·         Amanat
Segala sesuatu dalam menentukan suatu pilihan, kita tidak boleh terburu-buru dan harus dengan kepala dingin agar dapat memilih suatu pilihan yang terbaik untuk semua orang dan tidak mengecewakannya.


Unsur ekstrinsik :

Biografi pengarang

Toha Mohtar

Toha Mohtar merupakan sastrawan Indonesia yang dikelompokkan sebagai sastrawan angkatan 1950 sampai 1960-an. Toha Mohtar lahir di Kediri, Jawa Timur, 17 September 1926 dan meninggal di Jakarta, 17 Mei 1992. Pendidikan terakhirnya hanya sampai dibangku SMA kelas dia, Kediri tahun 1947. Toha Mohtar pernah menjadi redaktur majalah RIA (1952-1953). Beliau juga pernah berprofesi sebagai guru menggambar di Taman Dewasa, Perguruan Taman Siswa, Jakarta (1953-1959). Keahlian menggambar dan kemampuannya menulis karya sastra bermutu membuat dua komik karya Toha Mohtar memang terasa berbeda. Ia membuat sebuah cerita komik berbobit sastra dan komik bertema perjuangan ini sangat berbeda denga model komik perjuangan yang sudah ditulis sebelumnya. Salah satu ciri dari komik perjuangan baik fiktif maupun yang diangkat dari kisah nyata. Selain sastrawan besar, Toha Mohtar juga seorangkomikus handal. Uniknya dilingkungan sekitar sosok Toha Mohtar lebih dikenal dengan ilustrator daripada seorang pengarang. Berawal dari bekal pengalaman ketika mengembara di zaman revolusi tersebut oleh Toha Mohtar dimanfaatkan untuk menciptakan karya novel yang berjudul Pulang. Akhirnya dikembangkan dengan menjadikan film dari alur cerita novel tersebut yang disutradarai oleh Basuki Effendi dan di sinetronkan disalah satu stasiun televisi yaitu TPI yang dibintangi oleh Turino Djunaidi, kemudian diterbitkan di Malaysia serta di terjemahkan ke berbagai bahasa asing di dunia.

Karya Toha Mohtar :
  • ·         Pulang (1958)
  • ·         Daerah Tak Bertuan (1963)
  • ·         Kabut Rendah (1968)
  • ·         Bukan Karena Aku (1968)
  • ·         Jayamada (bersama Soekanto S.A 1971)
  • ·         Antara Wilis dan Gunung Kelud (1989)

Penghargaan yang diraih :
  • Hadiah Sastra Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional pada tahun 1960, diberikan atas penulisan novel yang berjudul “Pulang” (1958).
  • Hadiah Sastra Yamin pada tahun 1964, diberikan atas penulisan novel dengan judul “Daerah Tak Bertuan” (1963).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar