Nama : Fitri Mahendi Prameswari
NIM : 150388201075
NIM : 150388201075
Kelas : H-03
Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Tugas : Membuat karangan cerpen
Mata Kuliah : Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia
Kumpulan Kisah Nyata 1001 Pengalaman Kelas H3
Hai, namaku Fitri Mahendi Prameswari. Senang sekali kalau sudah lulus SMA
dan sekarang melanjutkannya ke tingkat yang lebih tinggi yaitu di salah satu
perguruan tinggi. Aku memutuskan untuk mendaftar di perguruan tinggi negeri
“Universitas Maritim Raja Ali Haji” atau biasa disebut UMRAH. UMRAH merupakan
satu-satunya universitas negeri yang ada di kota Tanjungpinang. Apalagi, sekarang
tidak perlu memakai seragam lagi. Di Umrah ini juga memiliki dosen yang
sifatnya macam-macam. Selama hampir satu tahun ini, aku memiliki banyak
pengalaman dengan teman-teman dan dosen. Perasaan cemas pasti ada untuk
mahasiswa baru sepertiku, memikirkan apakah dosen-dosen di UMRAH ini lebih
menakutkan dari guru yang mengajar di SMA ? Ketika dosen pertama masuk ke kelas, memang belum masuk ke materi hanya
perkenalan awal saja. Dosen-dosen silih berganti masuk kelasku. Awal
masuk kuliah di hari Senin, dosen yang pertama kali masuk di kelasku untuk
mengajar adalah bu Legi Elfitra. Bu Legi mengajar di kelasku pada mata kuliah
perencanaan pengajaran bahasa Indonesia. Penampilan bu Legi sangat sopan
sekali, karena beliau memakai jilbab dan pakaian yang rapi. Beliau mengajar
dengan sangat baik, cara berbicara yang lembut membuat aku merasa nyaman dan
cukup mengerti dengan apa yang ia sampaikan saat menerangkan materi di kelas.
Bu Legi juga mengajar mata kuliah linguistik umum menggantikan bu Wahyu
Indriyati yang sedang cuti untuk melahirkan. Pernah ada rasa kesal saat bu Legi
mengajar mata kuliah ini, penyebabnya karena bu Legi hampir jarang masuk untuk
mengajar. Sehingga kami sebagai mahasiswa menjadi kurang mengerti dengan materi
linguistik umum ini. Untung saja beliau masih menyempatkan untuk mengajar kami
pada beberapa minggu menjelang UTS (Ujian Tengah Semester) dan UAS (Ujian Akhir
Semester), sehingga kami bisa mengerjakan ujian pada saat itu. Tetapi, kami
semua memahami kondisi bu Legi yang sibuk. Bisa dibilang bu Legi mengenalku
saat di kelas, karena aku cukup aktif di kelas, tidak pernah absen, semua tugas
selalu dikerjakan dan dikumpulkan tepat waktu.
Pada mata kuliah selanjutnya, jantungku kembali berdebar-debar menunggu
dosen masuk. Pak Robby Patria adalah dosen mata kuliah kedua di hari Senin ini.
Beliau mengajar pada mata kuliah pendidikan kewarganegaraan. Penampilan yang
selalu rapi dengan rambutnya yang tipis dan kacamatanya. Cukup tegang saat
mengikuti mata kuliah ini, karena pak Robby sering bertanya kepada salah satu
mahasiswanya mengenai materi yang sedang dipelajari. Terkadang aku juga sering
terkena giliran menjawab pertanyaannya. Ntah apa yang harus aku katakan, aku
takut salah menjawabnya. Pernah saat UAS, aku dan temanku Eka lupa membawa
lirs. Untung saja pak Robby masih memberikan kesempatan untuk tetap mengikuti
UAS. Keesokan harinya, aku dan Eka mencari pak Robby tetapi tidak ketemu.
Alhasil, lirs pada kolom UAS mata kuliahnya belum di tanda tangani olehnya.
Sedih, karena lirs ini syarat untuk mengurus wisuda dan harus lengkap ditanda
tangani oleh setiap dosen mata kuliah. Malasnya saat pelajaran mata kuliah pak
Robby ini, terkadang membosankan. Itu semua karena materi yang terlalu sulit,
mata kuliah yang masuknya selalu siang, cara berbicara pak Robby yang terkadang
sedikit meninggi dan membingungkan. Ada waktu bercanda juga untuk menghilangkan
rasa ngantuk. Penjagaan UAS yang sangat ketat, sulit untuk mencontek.
Masuk mata kuliah ketiga di hari selasa pada jam pertama yaitu mata
kuliah bahasa Inggris dengan dosennya pak Satria Agus. Bisa dibilang dosen yang
gokil sih, dosen yang lucu cara bicaranya. Sebenarnya, mata kuliah ini adalah
mata kuliah yang tidak aku sukai. Selain karena mempelajari materinya yang
kadang sulit aku terjemahkan, tetapi karena pak Satria ini orang yang memahami
kekurangan mahasiswanya dalam berbahasa Inggris. Dosen yang sabar mengulang
kembali materi agar mahasiswanya bisa memahami materi yang ia sampaikan. Pak
Satria sering memberikan tugas kelompok tentang percakapan menggunakan bahasa
Inggris, melatih cara berbicara dan menghafal kata demi kata yang sebelumnya
hanya aku tau dasarnya saja. Pernah pada saat aku kurang fokus
memperhatikannya, ia menyuruhku untuk maju dan mengerjakan soal di papan tulis.
Karena aku tidak tahu mau menjawab apa, aku meminta tolong temanku untuk
membantuku memjawabnya. Teman-teman dikelas menduga bahwa pak Satria itu masih
single (belum menikah), padahal pak Satria itu sudah menikah. Ujian tersulit
itu pada waktu ujian dengan pak Satria. Susah untuk bertanya dengan teman yang
lain bila ada soal yang tidak tahu jawabannya, setiap gerakan pasti ia tahu.
Tapi alhamdulillah, nilai semester satu mata kuliah bahasa Inggris dengannya
aku mendapat nilai A-.
Keesokan harinya, aku dan teman-teman di kelas mempelajari mata kuliah
teori dan sejarah sastra dengan dosen pak Suhardi. Dibilang punya pengalaman
dengan beliau pasti ada. Beliau ini masih dibilang belum tua-tua kali, tetapi
tidak terlalu muda juga. Seperti sosok ayah yang berpenampilan rapi dan kesederhanaannya.
Aku juga pernah bertemu dengan pak Suhardi di pamedan tempat pemberhentian bus
UMRAH yang menjemput mahasiswa yang tidak memiliki kendaraan dan takut membawa
kendaraan sendirian. Aku dan temanku menegurnya, karena pada saat itu kami
berdua takut terlambat masuk mata kuliahnya. Tetapi karena melihatnya di sana
membuat kami tenang, ya setidaknya kami belum terlambat masuk. Lucu saat pak
Suhardi mengajar di kelas, ia menerangkan tanpa membuat kami merasa tegang
belajar di kelas. Kadang-kadang, ia suka mengajak kami bercanda yang sangat
menghibur kami. Pak Suhardi suka bercerita tentang sejarah-sejarah sastra. Ia
juga sering bercerita yang diluar konteks materinya dan itu diceritakan
berulang-ulang. Saat ujian pak Suhardi meninggalkan kami beberapa saat,
sehingga kami bisa sedikit bekerja sama menjawab soal yang sulit, memang ini
adalah cara yang tidak boleh diikuti tapi kami tidak tahu lagi bagaimana cara
untuk menjawab soal yang susah. Nilai yang didapat juga lumayan A-.
Mata kuliah kedua di hari kamis ini adalah mata kuliah pendidikan agama.
Ibu Zaitun adalah dosen mata kuliah ini. Dosen agama yang baik, tegas, dan gak
sombong. Bu Zaitun pernah mengajarkan kami cara menjadi seorang guru yang bisa
berbicara di depan kelas menyampaikan materi. Walaupun jantung ini berdebar
kencang saat di suruh tampil ke depan bagaikan seorang guru yang sedang
mengajar di kelas, tetapi alhamdulillah aku bisa melakukannya dan ibu pun
mengatakan bahwa penampilanku menyampaikat materi sudah bagus. Di kelas, ibu
Zaitun juga memberikan kami pengetahuan tentang agama yang kami sedikit
dapatkan di sekolah dulu. Belajar mengaji, praktek shalat, dan belajar sejarah
yang ada di pulau Penyengat. Setelah ujian semester, kami semua bersama-sama
pergi ke pulau Penyengat. Di sana ibu
Zaitun menyuruh kami untuk menyetor sepuluh surat pendek untuk nilai tambahan,
kami juga makan bersama dan shalat bersama.
Dan dosen yang terakhir mengajar pada mata kuliah di semester satu ini
adalah pak Wagiman. Pak Wagiman mengajar pada mata kuliah Pengantar pendidikan
di semester satu dan psikologi pendidikan pada semester dua. Dosen yang bisa
dibilang sudah tua dibandingkan dosen yang lainnya, tetapi semangat mengajar
dan ketepatan waktunya masuk ke kelas untuk mengajar itu harus di contoh. Karena
tidak semua dosen bisa datang tepat waktu untuk mengajar di kelas. Pak Wagiman
itu suka sekali bertanya tentang materi yang sudah di bahas di kelas pada
pertemuan sebelumnya. Mengadakan presentasi perkelompok pada mahasiswanya yang
benar-benar harus memperhatikan cara menyampaikan materi dan menjawab
pertanyaan dari anggota kelompok yang lain. Mata kuliah yang santai materinya
itu dengan pak Wagiman, karena selain materinya yang bisa menggunakan nalar dan
pendapat kita untuk menjawabnya. Pernah pada saat masuk mata kuliahnya, aku dan
temanku tidak hadir karena kami berdua mendapat kabar bahwa pak Wagiman tidak
hadir. Tetapi, saat pukul dua belas siang kami mendapat kabar bahwa beliau masuk
ke kelas untuk mengajar. Dengan keadaan panik, kami cepat-cepat segera pergi ke
kampus walaupun jarak kampus dan rumah kami sangat jauh. Sampai di kampus, kami
berlari ke kelas. Walaupun terlambat, kami memberanikan diri untuk masuk ke
kelas. Saat menyalami pak Wagiman, beliau bertanya kenapa kami terlambat dan
apa karena bus ? Kami pun menjawab “iya”, bohong agar tetap bisa mengikuti mata
kuliahnya. Tiba-tiba beberapa menit kemudian, di kampus turun hujan. Tidak sadar
kami pergi meminta izin keluar untuk menyelamatkan helm kami agar tidak basah. Saat
kembali lagi ke kelas, kami baru sadar bahwa tadi kami terlambat dengan alasan
bus yang telat, tetapi sekarang kami meminta izin keluar dan berlari
menyelamatkan helm kami dari hujan. Apakah naik bus juga memakai helm ? Maafkan
kami ya pak telah berbohong.
Di semester dua ini, tentunya dosen yang mengajar untuk semester ini
berganti. Di semester ini, lebih banyak dosen perempuannya dibandingkan dosen
laki-laki. Dan tentunya kami sangat beruntung karena bisa kembali berjumpa
dengan pak Wagiman dengan mata kuliah psikologi pendidikan. Di semester dua
ini, sepertinya beliau lebih tegas lagi dalam mengajar. Bagaimana tidak, setiap
pertemuan pak Wagiman selalu bertanya tentang materi yang sebelumnya dan yang
sedang di pelajari pada saat itu. Aku yang duduk sebelah Ranti (temanku) selalu
saja dibuat jantungan, karena terkadang kami tidak bisa menjawab pertanyaan
yang diajukan oleh pak Wagiman dan paling lucu si Ranti, ia sampai keringat
dingin menunggu namanya untuk di panggil menjadi giliran yang menjawab
pertanyaan dari pak Wagiman. Tugas kelompok yang ia berikan pun sedikit berbeda
dari tugas kelompok pada saat di semester satu. Di semester dua ini, presentasi
kelompok dengan pak Wagiman ini seperti kami sedang melakukan seminar atau sidang
menuju wisuda. Duduk di depannya, ditanya satu persatu, dan menurut pendapat
masing-masing. Bagi yang mempelajari materi yang dibuat pasti bisa menjawabnya.
Lalu ada dosen cantik dan masih muda yang namanya bu Indah Pujiastuti. Bu
Indah mengajar dengan dua mata kuliah yaitu mata kuliah belajar dan
pembelajaran serta mata kuliah fonologi bahasa Indonesia. Tidak tau kenapa, bu
Indah ini menurutku baik dan bersahabat. Di kelas, ia bisa membuat mahasiswanya
menjadi nyaman dan tidak tegang mengikuti perkuliahan dengannya. Aku merasa ibu
Indah sengaja bersikap seperti itu agar mahasiswanya bisa santai belajar di
kelas. Bu Indah juga lumayan hafal dengan nama-nama mahasiswanya di kelas,
apalagi dengan mahasiswa yang menurutnya aktif di kelas. Ia juga pernah membuat
permainan yang masih menggunakan materi dalam belajar. Jadi, bukan sekedar
main-main saja, tetapi juga sambil belajar. Saat bu Indah membuat permainan,
aku memilih kelompok speaker yang merupakan materi mendengar. Kelompok ini
mendapat misi mendengarkan percakapan seseorang yang akan di putarkan dan kami
harus bisa menebak berapa kali kata “motivasi belajar” diucapkan dalam rekaman
percakapan tersebut. Aku pun mendengarkan dengan baik-baik. Setelah rekaman itu
selesai, aku pun yakin dan menjawab enam kali kata “motivasi belajar” itu
diucapkan. Teman-teman dalam kelompokku tidak ada yang sependapat denganku,
kalau hampir ada yaitu Yorendi yang menjawab tujuh kali dan yang lainnya ada
yang menjawab sepuluh kali. Aku bingung, kenapa mereka bisa menjawab sepuluh
kali. Jelas-jelas dalam rekaman itu hanya enam kali kata itu diucapkan. Akhirnya,
kami sepakat untuk meminta bu Indah memutar kembali rekaman percakapan itu. Kami
pun benar-benar mendengarkannya dan setelah selesai banyak dari mereka yang
sepakat dengan jawabanku yaitu enam kali. Kami pun memutuskan menjawabnya
sebanyak enak kali kata “motivasi belajar” itu di ucapkan. Bu Indah pun
membenarkan jawaban kami, aku senang sekali karena aku tidak salah mendengar. Di
kelas, bu Indah juga sepertinya hafal dengan namaku. UTS yang baru saja kami
lakukan ada enaknya dan ada tidaknya. Mengapa ? Karena Bu Indah memberikan soal
yang menurutku sedikit membingungkan pada mata kuliah fonologi bahasa
Indonesia. Kalau UTS belajar dan pembelajaran sih benar-benar menggunakan pemikiran
kami. Mudah-mudahan nilainya memuaskan.
Mata kuliah prosa fiksi dan drama ini yang menjadi dosen pengajarnya
adalah bu Tessa Dwi leoni. Bu Tessa ini dosen yang lebih muda satu tahun di
bawah umur bu Indah. Bu Tessa dosen yang cantik dan pintar. Tapi, maaf ya buk. Menurut
cerita salah satu teman saya, bu Tessa ini termasuk dosen yang sombong. Katanya,
pernah saat berjumpa dengan beliau mereka menyapanya tetapi bu Tessa hanya diam
tanpa membalas sapaannya. Aku juga sedikit kesal dengannya, karena pada saat
itu ia menyuruh kelompokku untuk presentasi di depan. Padahal, pada saat itu
kami belum memiliki materi yang lengkap dikarenakan kami tidak diberikan materi
yang akan dipresentasikan. Kami pun maju dengan membawa sedikit materi yang kami
sudah sempat cari sebelumnya dalam waktu satu jam. Tibalah pada sesi tanya
jawab yang biasa dilakukan setelah menyampaikan materi. Dengan sedikit materi
yang kami punya, kami pun menjawab dengan seadanya. Ternyata bu Tessa mengatakan
apa yang kami jawab itu salah, tetapi dengan nada yang sedikit meremehkan kami
pun kurang menyukainya. Kami diam, tidak berbicara sedikit pun. Padahal, kalau
saja kami tahu materinya tentu saja kami akan mempersiapkannya. Kurang nyaman
dengan cara mengajarnya, yang kadang membuatku bingung.
Kalau dengan dosen yang satu ini, seperti kami sedang naik wahana roller
coaster. Bagaimana tidak, setiap hari aku dan teman-teman dikelas dihadapkan
pada situasi yang menegangkan. Mata kuliah tradisi Melayu dengan dosennya bu
Tetty Kumalasari, beliau itu dikabarkan merupakan salah satu dosen yang tidak disukai
oleh banyak mahasiswa. Karena selain mukanya yang jarang tersenyum, juga karena
beliau itu suka marah dan pelit nilai. Aku juga mulai sedikit merasakannya, karena
bu Tetty ini adalah PA-ku. Jadi aku sedikit tahu sifatnya. Beliau sulit ditemui
karena sering tidak berada di kampus. Pernah pada saat mau UTS, beliau menyuruh
mengumpulkan tugas dan lirs sebelum ujian berlangsung. Karena ketua tingkatnya
belum datang, jadi aku yang mengumpulkannya. Aku pun meminta temanku untuk
menemani mengantar tugas dan lirs yang ia suruh ke ruang dosen di mejanya. Padahal
ia yang menyuruh untuk mengumpulkannya, tetapi raut wajahnya seperti orang
marah atau tidak suka. Aku pun bingung untuk menanganinya, dengan sedikit
terpaksa aku pun menuruti apa yang ia perintahkan. Kesal pada saat itu, ingin
saja aku meninggalkan begitu saja kumpulan tugas itu di mejanya. Meminta tanda
tangannya pun, kami harus melihat wajahnya yang selalu merengut.
Bu Isniani Leo Shanty, dosen yang bisa dibilang seniorjuga seperti pak
Wagiman. Beliau mengajar pada mata kuliah berbicara. Beliau walaupun sudah
tidak muda lagi, tetapi beliau punya toleransi untuk mahasiswa baru seperti
kami. Menurutnya, kami ini masih belajar untuk beradaptasi dengar cara belajar di
kampus yang berbeda jauh pada saat kami sekolah. Bu Shanty sangat sibuk sekali,
sehingga beliau sering tidak dapat hadir untuk mengajar. Terkadang, bila hadir
beliau tidak bisa berlama-lama untuk menyampaikan materi kepada kami. Kami semua
memaklumi kesibukan bu Shanty. Waktu pertama
kali presentasi, kelompokku yang maju terlebih dahulu. Menyampaikan materi
tentang diksi yang sebenarnya kami juga belum mengerti. Tetapi setelah selesai
presentasi, beliau memberikan respon yang baik dan pujian kepada kami. Karena kami
sebagai mahasiswa baru yang belum banyak dijelaskan materi dengannya, tetapi
bisa mempresentasikan materi dengan baik di depan kelas. Itu semua membuat kami
menjadi senang, terkadang ada dosen yang suka marah karena kami
mempresentasikan materi kurang lengkap. Pada waktu UTS kemarin, kami ujiannya
gabung bersama anak H2. Karena pada jadwal kami, hari kamis itu adalah tanggal
merah. Sehingga jadwal ujian kami pun di percepat menjadi hari Rabu.
Dan yang terakhir bu Titik Dwi Ramthi, dosen sekaligus ketua jurusan
prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Bu Titik mengajar dengan baik,
cara berbicaranya yang lembut, dan tutur katanya juga sopan. Aku paling suka
pada saat belajar sambil mendengarkan sebuah musik. Beliau juga menyukai itu,
pernah beliau memberikan sebuat materi dengan di sisipkan beberapa alunan nada memutarkan
lagu yang itu semua sangat membuat pikiran menjadi santai. Yang paling aku suka
adalah saat ibu menyuruh kami untuk berdiri dan berpasangan, kami harus
mengekspresikan wajah senang, sedih, takut, marah. Seperti seseorang yang
sedang ikut chastting untuk menjadi artis dan bintang iklan. Aku sedih karena
aku selalu tidak terpilih untuk maju sebagai orang yang berhasil berekspresi,
padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin agar dapat menghayati berbagai
macam ekspresi. Ya sudahlah tidak apa-apa, mungkin menurut bu Titik aku harus
lebih belajar lagi. UTS dengan bu Titik lumayan membuat tenang sih, karena
tidak ada ujian tertulis. Kami hanya di minta untuk mengumpulkan tugas individu
dan kelompok, semacam tugas take home. Untuk UAS juga kami hanya mengumpulkan sebuah
video. Tapi sayangnya, bu Titik tidak berada di kampus sehingga kami semua
harus mengumpulkan tugas lewat sosial media yaitu sebuah blog.
Pengalaman dengan
dosen di kampus masih belum terlalu banyak. Karena sibuknya waktu dosen yang
dipakai untuk seminar kakak tingkat yang akan segera wisuda. Sebagian dosen ada
yang dekat dengan mahasiswanya dan ada sebagian dosen juga yang hanya sekedar
mengajar di mata kuliah tertentu. Di semester dua ini pastinya kami belum
banyak mengenal dan memiliki banyak pengalaman dengan dosen. Tetapi, setidaknya
kami mempunya beberapa cerita bersama dosen mata kuliah untuk satu tahun ini. Maafkan
kami pak, bu, karena kami pernah berbohong. Kami harap untuk kedepannya, kami
bisa memperbaiki kesalahan kami dan semangat untuk melakukan perkuliahan
layaknya mahasiswa yang seharusnya.
bagus
BalasHapusbagus
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus