Kamis, 17 Mei 2018

Teks Pidato


Indonesia-Ku Kaya Keberagaman Suku, Bahasa, dan Budaya


Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,

Marilah kita bersama-sama mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT, karena atas rahmat dan karunianya kita masih diberi kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta. Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan dan insyaallah penuh berkah ini untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada ibu Riau Wati, yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menyampaikan pidato tentang “Indonesia-Ku Kaya Keberagaman Suku, Bahasa, dan Budaya”.

Yang saya hormati Dekan dan Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Maritim Raja Ali Haji.
Yang saya hormati ibu Riau Wati sebagai dosen mata kuliah Wacana Bahasa Indonesia dan teman-teman yang saya sayangi.

Hadirin yang saya muliakan,

Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman suku dan budaya. Keberagaman suku dan budaya di Indonesia memunculkan kekayaan bahasa dan sastra. Keberagaman bahasa yang ada menjadikan Indonesia membutuhkan bahasa persatuan yang berfungsi sebagai sarana komunikasi. Maka, Indonesia memilih Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Sebuah bahasa yang besar, yang layak untuk menjadi sebuah kebanggaan.

Negara Indonesia merupakan bangsa yang kaya. Kaya akan budaya, adat istiadat. Beragam bahasa mereka gunakan untuk berkomunikasi, berhubungan, bekerjasama dan bersosial dengan masyarakat. Meskipun begitu dengan beragam, bermacam, warna-warni adat dan istiadat, dengan menggunakan bahasa kita dapat mengungkapkan keinginan, kemampuan, ilmu dan pengetahuan kita dengan berbahasa Indonesia. Seperti yang telah pejuang - pejuang muda ikrarkan yang pada hari ini kita peringati bahwa “kami putera dan puteri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia”.

Hadirin sekalian,

Kenapa kita harus bangga dengan bahasa Indonesia yang sekarang kita miliki? Ini karena untuk dapat mengucapkan bahasa ini secara bebas, membutuhkan perjuangan yang begitu berat. Saat ini, kita memang sudah hidup di Negara yang merdeka. Tidak ada lagi peperangan melawan penjajah. Akan tetapi, bukan berarti kita berhenti dalam berjuang. Ada sebuah proses panjang penggunaan bahasa indonesia dijadikan sebagai bahasa pemersatu, oleh karena itu adalah sebuah kewajiban bagi kita sebagai generasi muda untuk menghargai peran dan kedudukan bahasa indonesia. Mengapa saya katakan demikian? apakah ada yang salah dengan bahasa yang kita gunakan sehari - hari?

Bahasa Indonesia juga digunakan sebagai media pembelajaran di hampir semua jenjang dan tataran pendidikan. Bahasa Indonesia juga digunakan sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional, dan bahasa negara. Kalau kita melihat kenyataan-kenyataan pemakaian itu, kita bisa memastikan bahwa bahasa Indonesia bermartabat tinggi. Pada dasarnya, pendidikan merupakan upaya yang terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar dapat berkembang dan tumbuh menjadi manusia yang mandiri, bertanggungjawab, berilmu, kreatif, sehat, sekaligus berakhlak mulia, baik dilihat dari aspek jasmani maupun rohani.

Pendidikan Sekolah dan perguruan tinggi sebagai salah satu sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan tempat yang paling efektif untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa Indonesia. Pendidikan merupakan elemen penting bagi seluruh kehidupan manusia. Keberadaannya sangat membantu kemajuan bangsa, karena semakin tinggi kualitas pendidikan, akan semakin mudah menjadikan bangsa ini besar. Kita boleh berbesar hati karen kini di beberapa universitas luar negeri, bahasa Indonesia mulai banyak dipelajari. Pusat-pusat studi bahasa Indonesia cukup banyak ditemukan di sana. Di dalam negeri sendiri bahasa Indonesia juga digunakan secara meluas. Hampir semua buku terbitan ditulis dalam bahasa Indonesia. Hampir semua kegiatan resmi maupun tidak resmi, lisan maupun tulis, kita menggunakan bahasa Indonesia.

Maka dari itu alangkah baiknya jika kita bisa dengan bijak menggunakan bahasa indonesia sebaik-baiknya dalam hal yang positif demi kemajuan diri dan pribadi kita, serta kemajuan bangsa Indonesia yang kita cintai untuk menyongsong masa depan.

Hadirin yang berbahagia.

Mungkin tidak banyak yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini dan sebelum saya akhiri pidato singkat ini, harapan saya adalah semoga melalui pidato yang saya sampaikan ini akan menambah kebanggaan kita terhadap Indonesia dan mencintai budaya asli Indonesia, serta mencintai dan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia. Akhir kata saya ucapkan terimakasih atas perhatian dan mohon maaf apabila ada kata yang tidak berkenan bagi hadirin sekalian.

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.



BUKU REFERENSI:
Mudji Sutrisno, dkk. 2005. Sejarah Filsafat Nusantara, Alam Pikiran Indonesia. Yogyakarta: Galangpress (Anggota IKAPI).
Dr. R. Kunjana Eahardi, M. Hum. 2006. Dimensi-Dimensi Kebahasaan. Yogyakarta: Erlangga.

Tugas Membuat Artikel


Judul Buku      : Ki Hajar Dewantara Biografi Singkat 1889-1959
Penulis             : Suparto Rahardjo
Penerbit           : Garasi House of Book
Cetakan           : V, 2013
Tebal               : 136 hlm, 13,5 x 20 cm
ISBN               : 978-979-25-4616-3


Kemerdekaan dan Wajah Pendidikan Indonesia

Sosio-historis Ki Hajar Dewantara dalam buku ini memang cukup menarik dan begitu mengagumkan dengan perjuangan-perjuangan yang dilakukannya. Kritik kepada pemerintahan Belanda cukup memberikan ancaman di negeri jajahannya. Namun  ilustrasi dan pemaparan peristiwanya masih terkesan tidak dewasa. Seakan tak ada kata dan peritiwa lain lagi yang akan dipaparkan. Beberapa ulasan sejarah kehidupan dan perjuangan Ki Hajar diulang hingga beberapa kali.

“Pemerintah menyatakan bahwa wafatnya Ki Hajar Dewantara merupakan hilangnya seorang pendekar, yang sifat-sifatnya telah memberi kekuatan batin pada perjuangan kemerdekaan politik, kemerdekaan sosial, ekonomi, maupun perjuangan kebudayaan dan keruhanian”. (Soekarno, Presiden RI Pertama).

Buku molek ini mengajak kita, para kaum nasionalis, dan akademisi untuk kembali menyelami dan merenungi perjuangan Ki Hajar Dewantara pada masa penjajahan Belanda di Hindia. Diharapkan dari renungan ini kita sebagai bangsa Indonesia mampu melanjutkan perjuangannya dalam bidang pendidikan agar bangsa Indonesia tidak lagi terjajah baik secara langsung atau tidak langsung. Ulasan dalam buku ini mencakup riwayat singkat hidup Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan Indonesia dan penggerak kemerdekaan. Yang mana untuk mengawali menuju kemerdekaan Indonesia ia menggunakan media pendidikan sebagai alternatif.


RINGKASAN ISI CERITA

Sosok Ki Hajar Dewantara merupakan tokoh fenomenal baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi, dan utamanya dalam bidang pendidikan (keruhanian). Perannya merupakan fondasi bagi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui dunia pendidikan. Karena dengan pendidikan bangsa Indonesia semakin cerdas sehingga semangat dan kemauan untuk merdeka tumbuh dengan sendirinya tanpa harus dipaksakan.

Ki Hajar dalam perjuangannya tak cukup mudah dalam dunia pendidikan untuk menuju kemerdekaan. Beliau mengalami banyak hambatan. Misalkan pengasingan karena gagasannya yang mengancam pemerintahan kolonial Belanda. Itu tidak hanya dialami oleh Ki Hajar saja. Namun dua rekannya juga – Cipto Mangunkusumo dan Dowwes Dekker – yang tak luput dari hukuman yang sama (Hal. 15-16). Pada kesempatan itu, mereka meminta agar diasingkan ke Belanda daripada di pulau Banda. Di sana mereka bisa mempelajari banyak hal daripada di daerah terpencil. Akhirnya, mereka diizinkan ke negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman.

Seorang Penulis,

Ki Hajar semenjak masih bernama Suwardi Suryaningrat banyak menulis di berbagai surat kabar, majalah, dan brosur-brosur serta penerbitan dan lain-lain, yang tersebar di Indonesia maupun Belanda. Bahkan, selama menjalani hukuman pengasingan di Belanda (1913-1919), ia bekerja keras menulis artikel untuk menghidupi keluarganya. Uang yang dikumpulkan dari tulisan-tulisan yang diterbitkan di Indonesia atau Belanda itulah yang kelak membuatnya mampu membiayai perjalanan pulang ke Indonesia tanpa merepotkan orang lain (Hal. 30).

Ki Hajar memulai aktivitas menulisnya di surat kabar seperti Kaum Muda, Utusan Hindia, Tjahaya Timur, dan lain-lain. Ia memang mengawali kiprahnya sebagai seorang penulis muda yang ulet. Tulisan-tulisannya tajam, komunikatif, sekaligus provokatif. Tu-lisan-tulisan itu juga memantik semangat petriotik bagi siapa pun yang membacanya untuk kemudian berusaha mengusir penjajah. Ki Hajar menjelma penulis andal pada zamannya.

Tulisannya yang terkenal adalah Als Ik Eens Nederlander Was (Andai Aku Seorang Belanda). Pamflet ini membuat pemerintah kolonial Belanda tersinggung dan murka. Sebab tu-lisan ini pula Ki Hajar dan rekan-re-kannya diasingkan. Ketika diasing bukan malah berhenti menulis, tapi tulisannya makin hari makin tajam dan kritis.

Tulisan-tulisan Ki Hajar tidak serta merta mengkritik pemerintahan kolonial Belanda dan memacu kemerdekaan Indonesia. Namun juga yang dimuat di majalah Wasita memuat tentang pendidikan yang harus didapat oleh bangsa Indonesia. Seperti halnya ide dan gagasan dalam tulisannya tentang konsep, makna dan arah pendidikan bangsa Indonesia. Misalkan seperti: Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani (Hal. 74-81).

Sayangnya, dari tiga pemikiran tersebut yang masih tampak kekal hanya Tut Wuri Handayani yang bisa ditemui di topi-topi anak-anak sekolah dasar dan menengah. Hal ini menjadi perhatian bagi kita dan pemerintah agar tetap menjaga semangat perjuagan Ki Hajar Dewantara. Karena sebab beliau kita bisa melihat pendidikan dan negara Indonesia tercerahkan.

Membaca jejak Ki Hajar Dewantara penuh dengan dedikasi pada spirit kerakyatan. Meskipun keturunan ningrat, Ki Hajar bukanlah sosok yang menaruh jarak dengan kehidupan masyarakat. Sejak kecil Ki Hajar akrab dengan rakyat jelata. Atribut kebangsawanan yang melekat pada nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat pun ditinggalkan. Tepat pada tanggal 23 Februari 1928, nama itu telah berganti menjadi Ki Hajar Dewantara yang kemudian dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

Ki Hajar boleh dikatakan sebagai sosok yang humanis dan merakyat. Ada cerita menarik di sini. Pernah ibunda Ki Hajar berkata kepada beliau ketika pergi ke Candi Borobudur, “Anakku Suwardi, lihatlah stupa di puncak candi itu. Manis dan indah, bukan? Tapi ketahuilah Wardi, bahwa stupa itu takkan berada di puncak candi jikalau tidak ada batu-batu dasar yang mendukungnya. Itulah ibaratnya rakyat jelata, itulah gambaran para budak dan hamba sahaya para raja. Oleh sebab itu, jikalau Tuhan mentakdirkan dirimu menjadi raja, janganlah kau lupa kepada rakyat jelata yang menaikkan dirimu ke atas puncak dari segala puncak kemegahan kerajaan warisan nenek moyangmu. Cintailah dan hargailah sesamamu, terutama rakyatmu yang menderita dan memerlukan uluran tanganmu.” Kata-kata ibunda Ki Hajar ini menjadi petuah bijak yang dihayati Ki Hajar dalam perjalanan hidupnya. Kepribadian Ki Hajar menjadi cermin betapa perhatian dan kepedulian terhadap rakyat tak boleh dilalaikan.

Sikap dan laku kepedulian terhadap rakyat kemudian mengilhami Ki Hajar bersama sahabat-sahabatnya untuk mendirikan perguruan nasional Taman Siswa (Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa) pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Lewat Taman Siswa, Ki Hajar berkehendak mendidik rakyat agar mampu mandiri. Pendidikan bagi rakyat adalah niscaya untuk mewujudkan cita-cita memerdekakan diri dari ketertindasan. Melalui metode among, Tamansiswa meletakkan pendidikan sebagai alat dan syarat untuk anak-anak hidup sendiri, mandiri, dan berguna bagi masyarakat. Pendidikan yang diajarkan adalah menegakkan jiwa anak-anak sebagai bangsa, membimbing anak-anak menjadi manusia yang bisa hidup dengan kecakapan dan kepandaiannnya sendiri, menciptakan manusia yang berguna bagi diri sendiri dan masyarakat (hlm. 56-57).

Buku yang ditulis Suparto Rahardjo ini memang berupaya menceritakan perjalanan Ki Hajar. Membuka buku ini, kita menjumpai sekilas jejak kehidupan dan aktivitas pergerakan Ki Hajar. Selain merakyat dan humanis, kepribadian Ki Hajar diuraikan sebagai sosok yang keras tapi tidak kasar, nasionalis sejati, pemimpin yang konsisten, berani dan setia, dan bersahaja.

Tak lupa pula pemikiran Ki Hajar terkait aspek pendidikan disajikan dalam buku ini. Membaca buku ini, kita diajak menyelami pemikiran Ki Hajar dalam usaha pendidikan anak-anak bangsa. Meskipun berupa riwayat singkat, buku ini tetap menarik. Ada sosok besar yang pernah dilahirkan di negeri ini yang mungkin kita lupakan. Kita hanya menghargai beliau dengan sebutan Bapak Pendidikan Nasional semata, namun pemikiran pendidikan beliau alpa dikaji dan ditelaah. Lewat riwayat singkat ini, kita menelusuri laku hidup Ki Hajar.



BUKU REFERENSI
Suparto Rahardjo. 2013. Ki Hajar Dewantara Biografi Singkat 1889-1959. Yogyakarta: Garasi House of Book.


Kamis, 26 April 2018

ULASAN BUKU


Ulasan (Resensi) Buku ‘Pengantar Linguistik Umum’ karya Drs. Suhardi, M. Pd



IDENTITAS
Judul                 : Pengantar Linguistik Umum
Penulis               : Drs. Suhardi, M. Pd
Penerbit             : Ar-Ruzz
Tahun                : 2013
Tebal buku        : 140 Halaman
Ukuran buku     : 14,8 x 21 cm
ISBN                 : 978-602-787-10-7
Desain Sampul : Tri AT
Desain Isi          : Maarif
Editor                : Rose Kusumaning Ratri
Proofreader       : Nurhid
 


ORIENTASI

            Buku ini ditulis oleh Drs. Suhardi, M. Pd, lahir di Padang 15 Agustus 1965, lulus di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Universitas Bung Hatta Padang (1992) dan pada tahun yang sama langsung melanjutkan studi S2-nya ke Universitas Negeri Padang meraih gelar Magister Pendidikan Bahasa Indonesia tahun 2001. Saat ini, ia menjadi dosen tetap Yayasan Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang. Materi pengantar linguistik ini disusun dengan maksud membantu para mahasiswa untuk memperoleh bahan ajar linguistik sekaligus untuk menunjang pembelajaran linguistik di kelas sesuai tujuan kurikulum. Materi dasar yang disajikan penulis pada buku ini meliputi sejarah linguistik dan pengenalan tentang fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Hal ini penulis lakukan karena linguistik itu sendiri sebetulnya didukung oleh keempat bidang ilmu tersebut.

          Karyanya yang diterbitkan oleh AR-RUZZ MEDIA, Depok, Sleman, Jogjakarta, 2013. Sebagai akademisi, Suhardi telah berhasil merampungkan buku pertamanya berjudul, Sastra Kita, Kritik, dan Lokalitas yang diterbitkan PT Komodo Jakarta. Ia juga aktif menulis sejumlah modul mata kuliah bahasa dan sastra Indonesia, yaitu Pengantar Linguistik, Pengantar Teori Sastra, Pengantar Morfologi Bahasa Indonesia, Pengantar Semantik, dan Dasa-Dasar Sintaksis Bahasa Indonesia. Selain itu, sejumlah tulisannya tersebar di berbagai surat kabar seperti Harian Umum Padang Expreso, Singgalang, Haluan, Mimbar Minang, Sijori Mandiri/Haluan Kepri, dan Batam Pos. Pengalaman mengajar antara lain sebagai dosen Luar Biasa Universitas Mahaputra Muhammad Yamin, S.H., Solok (1992-1998); dosen luar biasa IAIN Imam Bonjol Padang (1998-2004); dosen penuh waktu Politeknik Batam (2004-2007); dan dosen tetap di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang (2007-sekarang). Penulis juga pernah menjadi tim peneliti Pusat Penelitian Islam Minangkabau, Sumatera Barat sejak tahun 2004. Anggota Peneliti Lembaga Penelitian IAIN Imam Bonjol (sejak 2004), Konsultan Monitoring dan Evaluasi (Monev) di Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau (2006-2007), sejak tahun 2009 menjadi Ketua Lembaga Penjaminan Mutu Akademik (LPMA) UMRAH, dan Ketua TIM Pengembang Kurikulum Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau (2012-sekarang). ia pun kerap menjadi dewan juri lomba penulisan dan baca cerpen serta puisi tingkat SD, SMP, dan SMA di Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau.

TAHAPAN TASFIRAN ISI

            Buku ini menjelaskan tentang Linguistik. Linguistik yang ada pada buku ini dijelaskan per-bab. Buku ini memuat masalah yang berkaitan dengan linguistik, yaitu dibagi mejadi 12 Bab. Masing-masing Bab membahasa masalah yang berbeda-beda walaupun tetap dalam 1 bagian yang sama yaitu sebagai bagian dari Pengantar Linguistik Umum. Pembahasan yang dijelaskan setiap bab tidak hanya membahas fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik, tetapi juga membahas tentang fonetik, morfem, frasa, deiksis, morfologis, dan morfofonemik. Pada Bab I (Pendahuluan) membahas hal-hal yang masih pada dasarnya, yaitu pembahasan mengenai pengertian, tata istilah linguistik, teori asal-usul bahasa, dan hakikat bahasa. Pada Bab II (Bidang Kajian Linguistik), sudah mulai membahas mengenai bidang kajian linguistik seperti kajian linguistik, analisis Leksikal dan Gramatikal, Kajian fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik, serta linguistik teoritis dan terapan.

            Pada bab 3 sampai bab 6 membahas tentang Tata Bahasa, Bab III (Tata Bahasa Tradisional Yunani), pembahasannya hanya 2 saja, yaitu mengenai sejarah tata bahasa dan ciri-ciri tata bahasa tradisional. Bab IV (Tata Bahasa Struktural), pembahasannya sama tetapi terdapat perbedaan yaitu pada bab ini tidak membahas tentang sejarah tata bahasa, melainkan membahas tenang tokoh tata bahasa struktural. Bab V (Tata Bahasa Transformatif), ada 3 pembahasan yaitu mengenai tokoh tata bahasa transformatif: Noam Chomsky, perkembangan tata bahasa transformatif, dan ciri-ciri tata bahasa transformatif. Sedangkan, pada Bab VI (Tata Bahasa Relasional) mem tata bahasa mengenai tata bahasa dengan lebih terperinci lagi, yaitu membahas latar belakang perkembangan tata bahasa relasional, kerangka teori tata bahas relasional, dan tantangan tata bahasa relasional.

Pada bab 7 dan 8 mempunyai kaitan dalam pembahasannya, pada Bab VII (Struktur Bahasa), membahas tentang pendahuluan, struktur pembendaharaan kata, substansi dan bentuk, hubungan paradigmatik dan sintagmatik. Pada bab ini juga membahas tentang bunyi dan kata yang dijelaskan pada bagian awal bab 7. Setelah selesai membahas pada bab 7, penjelasan mengenai bunyi-bunyi bahasa dilanjutkan pada bab 8. Bab VIII (Bunyi-bunyi Bahasa), membahas tentang fonetik, seperti pendahuluan, fonetik, suara dan tinggi nada. Pada bab ini bunyi-bunyi bahasa yang dijelaskan berkaitan dengan fonologi dan alofon.

Pada bab 9 sampai bab 11 membahas tentang Gramatikal, yaitu satuan-satuan, struktur, dan kategori. Setiap bab pun membahas masing-masing pembahasan. Bab IX (Satuan-Satuan Gramatikal), membahas mengenai pendahuluan, morfem, dan kata. Pada Bab X (Struktur Gramatikal), membahas tentang pendahuluan, tata bahasa struktur-frasa, tata bahasa kategorial, dan konstruksi endosentris dan eksosentris. Sedangkan, Bab XI (Kategori Gramatikal), membahas mengenai deiksis, kala, modus, aspek, dan kelas kata. Pada bab terakhir yang dibahas adalah Bab XII (Proses Morfologis dan Morfofonemik), bab ini membahas mengenai proses morfologis, kata majemuk, dan proses morfofonemik.

Buku ini juga memuat Daftar Pustaka, Indeks, dan Biografi Penulis di bagian akhir buku. Pembahasan pada setiap bagian bab 1 sampai dengan bab 12 tidak dijelaskan secara rinci, namun disusun secara ringkas dan sederhana. Buku ini tidak menggunakan warna pada gambar dan tulisan selain warna hitam. Hanya ada 1 gambar yang disajikan dan gambar tersebut hanya ada pada bab 8. Di setiap pembahasan perbab juga terdapat pertanyaan, tugas dan latihan, serta sumber bacaan.

EVALUASI

Buku ini terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan. Dari segi isi, buku ini memberikan informasi tentang kajian bahasa yang cakupannya sangat luas namun dirangkum dan diuraikan secara ringkas dan padat. Buku ini menggunakan kata-kata yang lugas dan baku sehingga mudah untuk dipahami oleh semua kalangan orang. Selain kata-kata yang mudah dipahami oleh orang, buku ini juga memiliki keunggulan tersendiri yaitu sampul buku yang bagus sehingga menarik perhatian untuk dibeli. Terdapat beberapa kesalahan penulisan pada kata asing yang seharusnya dicetak miring. Dapat membantu para mahasiswa jurusan bahasa untuk mengenal lebih jauh mengenai apa saja hal yang berkaitan dengan linguistik, serta menambah pengetahuan dalam dunia pendidikan mengenai linguistik.

Meskipun buku ini memiliki kelebihan, tetapi juga memiliki kekurangan. Buku ini monoton dalam menyampaikan isinya sehingga terlalu mendominasi pada sebuah teori saja dan subbab yang diberikan tidak terlalu banyak dan kurang mendetail, sehingga membuat pembaca malas untuk membacanya. Terdapat beberapa kesalahan penulisan pada kata asing yang seharusnya dicetak miring. Terdapat beberapa penempatan tanda baca berupa penempatan tanda titik yang tidak sesuai dengan Ejaaan Yang Disempurnakan. Gambar yang disajikan juga sedikit hanya ada 1 pada bab 8, sehingga pada saat membaca tidak akan merasa tertarik karena isi buku kebanyakan tulisan semua.

RANGKUMAN


Buku ini layak di baca karena didalamnya memuat ilmu pendidikan, upaya untuk membangun sumber daya manusia dan memberi wawasan, karena pendidikan menyangkut seluruh aspek kehidupan baik pemikiran maupun pengalamannya. Buku ini juga memuat berbagai persoalan yang berhubungan dengan linguistik yang juga dilengkapi dengan uji pemahaman dari setiap perbab. Dengan mempelajari linguistik berarti membuka gerbang menuju berbagai pintu masuk pada bidang kajian kebahasaan dan ilmu-ilmu lainnya. Buku ini membantu dan mempermudah proses pembelajaran untuk memahami konsep-konsep yang termasuk dalam lingkup bidang kebahasaan sebagai upaya menjelajahi samudera linguistik. Buku ini bebas digunakan oleh kalangan apapun, baik pelajar dan mahasiswa. Karena buku ini berisi tentang sifat dasar sebuah bahasa. Berbagai ilmu pengetahuan bahasa, khususnya linguistik yang ada di dalam buku ini sudah diperbaiki dan direvisi dengan sederhana, sehingga dapat lebih mudah dipahami. Harapan dari disusunnya buku ini adalah supaya dapat memberikan manfaat bagi pembaca dalam upaya membina dan mengembangkan bahasa Indonesia menjadi lebih baik lagi terutama dalam bidang bahasa.

Minggu, 19 Juni 2016

MEMBACA PUISI KARANGAN SENDIRI "AKHIR DARI PENANTIAN"

Nama            : Fitri Mahendi Prameswari
NIM              : 150388201075
Kelas             : H-03
Jurusan         : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas        : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Tugas            : Membaca Puisi Karangan Sendiri
Mata Kuliah : Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia


MEMBACA DONGENG "KANCIL dan BUAYA"

Nama            : Fitri Mahendi Prameswari
NIM              : 150388201075
Kelas             : H-03
Jurusan         : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas        : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Tugas            : Membaca Dongeng
Mata Kuliah : Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia



Sabtu, 28 Mei 2016

Artikel Profil Berdasarkan Wawancara Secara Langsung

Nama            : Fitri Mahendi Prameswari
NIM              : 150388201075
Kelas             : H-03
Jurusan         : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas        : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Tugas            : Artikel Profil
Mata Kuliah : Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia





Nama                           : Ayu Fairera Damayanti
Tempat/Tanggal Lahir     : Tanjungpinang, 8 Agustus 1996
Jenis Kelamin               : Perempuan

Agama                         : Islam
Alamat                         : Jl. Bayan No.10 Perumnas
Kewarganegaraan         : WNI


Ayu Fairera Damayanti (19 tahun), mahasiswa Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH). Ia mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), dengan mengambil  jurusan bahasa Inggris. Ayu nama panggilannya, ia merupakan seorang mahasiswa yang memiliki kepribadian yang baik. Tidak hanya cantik, ia juga berprestasi di kampus karena selama dua semester yaitu semester satu dan tiga, ia mendapatkan IP yang paling tinggi dan pada semester dua ia juga mendapatkan IP yang paling tinggi di kelasnya. Ia pernah terpilih menjadi ketua tingkat di kelasnya, serta pernah ikut acara Internasional yang diadakan oleh UMRAH. Karena pada saat itu UMRAH bekerja sama dengan Universitas Singapur dan Ayu pun menjadi salah satu mahasiswa yang terpilih untuk mengikutinya.

                Di UMRAH, Ayu mengambil jurusan bahasa Inggris. Karena menurutnya bahasa Inggris adalah jurusan yang memiliki banyak keuntungan, selain karena bahasa Inggris merupakan bahasa Internasional tetapi juga karena tingkat daya saingnya yang tidak cukup sulit dibandingkan tingkat daya saing Universitas di kota lainnya.

“Banyak orang yang malas mempelajari bahasa Inggris, dasar-dasarnya, serta memperdalam keahlian di bidang ini.” Ujarnya.

Ayu memiliki cita-cita menjadi seorang guru bahasa Inggris, Ayu juga ingin memiliki usaha yaitu membuka tempat bimbel. Ditanya soal pendidikan, Ayu adalah siswa lulusan SMK Negeri 2 jurusan tata boga. Tetapi, ia ingin sekali mengasah kemampuannya dalam berbahasa asing. Menurut Ayu, pendidikan itu tidak harus dari kampus saja melainkan dari lingkungan lain juga sangat membantu dalam pendidikannya seperti seminar, tempat kerja, dan lain-lain.

Rencananya dalam jangka pendek Ayu ingin meraih nilai kumlout saat wisuda dan lulus selama 4 tahun, kira-kira empat semester lagi kuliahnya selesai bila tidak ada halangan. Dalam jangka panjang, Ayu berencana untuk bekerja sebagai guru dulu. Bila ada kesempatan dan tidak ada halangan, Ayu akan melanjutkan pendidikannya ke s2. Lulus dengan nilai kumlout sudah di pikirkan Ayu dengan matang-matang sejak ia selesai SMA. Ia sudah menargetkan akan menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dan lulus dengan nilai terbaik. Bagi Ayu, ia tidak ingin membuang-buang waktu dan banyak uang. Lulus kuliah selama empat tahun, ia bisa merintis karir dengan cepat sebagai guru bahasa Inggris. Dengan persiapan seperti sekarang, Ayu memaksimalkan pendidikannya. Selama kuliah Ayu tidak pernah mengulang mata kuliah yang ia jalani. Ayu juga sangat hyper aktif di kampus, ia tidak ingin seperti mahasiswa kupu-kupu yang banyak diam. Tetapi, Ayu ingin menjadi mahasiswa yang mandiri dan berani.

Tidak hanya cantik dan berprestasi saja, Ayu juga sangat rajin bekerja. Selain kuliah, Ayu juga memiliki pekerjaan sampingan. Dari awal karirnya, ia mengharapkan bahwa dirinya bisa mandiri. Tidak menyusahkan orang tuanya lagi, karena ia sudah menghasilkan uang untuk membantu orang tuanya membayar uang kuliah dan bisa membeli kebutuhan yang ia inginkan sendiri. Ayu membagi tujuan hidupnya menjadi dua, yaitu kuliah dan kerja. Dalam pekerjaan, Ayu berencana mengembangkan usaha yang berbau seperti tempat kerjanya sekarang, dibandingkan hanya diam di rumah saja tanpa melakukan apa-apa. Sedangkan kuliah, ia memfokuskan ke arah cita-citanya yang ingin menjadi seorang guru.

“Menurut saya, sukses itu tidak harus bergelar s3, profesor, atau pun dokter. Sukse itu di mana kita bisa membuat diri kita ini berguna bagi semua orang, ilmunya bisa bermanfaat untuk orang banyak. Dan sukses itu juga tergantung dalam masalah hati, kita perlu mendekatkan diri kepada Allah. Jadi, tidak perlu pendidikan tinggi, tetapi bisa membahagiakan diri sendiri dan orang lain itu sudah sukses menurut saya.”  Tambah ayu.


Ayu termasuk mahasiswa yang sangat humble. Ia tidak suka dengan perdebatan yang membahas hal-hal yang menurutnya tidak penting. Ayu lebih suka berdebat di acara formal, dimana kegiatan tersebut lebih memiliki tujuan dan mendapatkan hasilnya. Maka dari itu, ia sangat berharap semua mahasiswa di UMRAH bisa seperti dirinya.

Selasa, 17 Mei 2016

Pengalaman Bersama Dosen

Nama            : Fitri Mahendi Prameswari
NIM              : 150388201075
Kelas             : H-03
Jurusan         : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas        : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Tugas            : Membuat karangan cerpen
Mata Kuliah : Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia



Kumpulan Kisah Nyata 1001 Pengalaman Kelas H3

Hai, namaku Fitri Mahendi Prameswari. Senang sekali kalau sudah lulus SMA dan sekarang melanjutkannya ke tingkat yang lebih tinggi yaitu di salah satu perguruan tinggi. Aku memutuskan untuk mendaftar di perguruan tinggi negeri “Universitas Maritim Raja Ali Haji” atau biasa disebut UMRAH. UMRAH merupakan satu-satunya universitas negeri yang ada di kota Tanjungpinang. Apalagi, sekarang tidak perlu memakai seragam lagi. Di Umrah ini juga memiliki dosen yang sifatnya macam-macam. Selama hampir satu tahun ini, aku memiliki banyak pengalaman dengan teman-teman dan dosen. Perasaan cemas pasti ada untuk mahasiswa baru sepertiku, memikirkan apakah dosen-dosen di UMRAH ini lebih menakutkan dari guru yang mengajar di SMA ? Ketika dosen pertama masuk ke kelas, memang belum masuk ke materi hanya perkenalan awal saja. Dosen-dosen silih berganti masuk kelasku. Awal masuk kuliah di hari Senin, dosen yang pertama kali masuk di kelasku untuk mengajar adalah bu Legi Elfitra. Bu Legi mengajar di kelasku pada mata kuliah perencanaan pengajaran bahasa Indonesia. Penampilan bu Legi sangat sopan sekali, karena beliau memakai jilbab dan pakaian yang rapi. Beliau mengajar dengan sangat baik, cara berbicara yang lembut membuat aku merasa nyaman dan cukup mengerti dengan apa yang ia sampaikan saat menerangkan materi di kelas. Bu Legi juga mengajar mata kuliah linguistik umum menggantikan bu Wahyu Indriyati yang sedang cuti untuk melahirkan. Pernah ada rasa kesal saat bu Legi mengajar mata kuliah ini, penyebabnya karena bu Legi hampir jarang masuk untuk mengajar. Sehingga kami sebagai mahasiswa menjadi kurang mengerti dengan materi linguistik umum ini. Untung saja beliau masih menyempatkan untuk mengajar kami pada beberapa minggu menjelang UTS (Ujian Tengah Semester) dan UAS (Ujian Akhir Semester), sehingga kami bisa mengerjakan ujian pada saat itu. Tetapi, kami semua memahami kondisi bu Legi yang sibuk. Bisa dibilang bu Legi mengenalku saat di kelas, karena aku cukup aktif di kelas, tidak pernah absen, semua tugas selalu dikerjakan dan dikumpulkan tepat waktu.

Pada mata kuliah selanjutnya, jantungku kembali berdebar-debar menunggu dosen masuk. Pak Robby Patria adalah dosen mata kuliah kedua di hari Senin ini. Beliau mengajar pada mata kuliah pendidikan kewarganegaraan. Penampilan yang selalu rapi dengan rambutnya yang tipis dan kacamatanya. Cukup tegang saat mengikuti mata kuliah ini, karena pak Robby sering bertanya kepada salah satu mahasiswanya mengenai materi yang sedang dipelajari. Terkadang aku juga sering terkena giliran menjawab pertanyaannya. Ntah apa yang harus aku katakan, aku takut salah menjawabnya. Pernah saat UAS, aku dan temanku Eka lupa membawa lirs. Untung saja pak Robby masih memberikan kesempatan untuk tetap mengikuti UAS. Keesokan harinya, aku dan Eka mencari pak Robby tetapi tidak ketemu. Alhasil, lirs pada kolom UAS mata kuliahnya belum di tanda tangani olehnya. Sedih, karena lirs ini syarat untuk mengurus wisuda dan harus lengkap ditanda tangani oleh setiap dosen mata kuliah. Malasnya saat pelajaran mata kuliah pak Robby ini, terkadang membosankan. Itu semua karena materi yang terlalu sulit, mata kuliah yang masuknya selalu siang, cara berbicara pak Robby yang terkadang sedikit meninggi dan membingungkan. Ada waktu bercanda juga untuk menghilangkan rasa ngantuk. Penjagaan UAS yang sangat ketat, sulit untuk mencontek.

Masuk mata kuliah ketiga di hari selasa pada jam pertama yaitu mata kuliah bahasa Inggris dengan dosennya pak Satria Agus. Bisa dibilang dosen yang gokil sih, dosen yang lucu cara bicaranya. Sebenarnya, mata kuliah ini adalah mata kuliah yang tidak aku sukai. Selain karena mempelajari materinya yang kadang sulit aku terjemahkan, tetapi karena pak Satria ini orang yang memahami kekurangan mahasiswanya dalam berbahasa Inggris. Dosen yang sabar mengulang kembali materi agar mahasiswanya bisa memahami materi yang ia sampaikan. Pak Satria sering memberikan tugas kelompok tentang percakapan menggunakan bahasa Inggris, melatih cara berbicara dan menghafal kata demi kata yang sebelumnya hanya aku tau dasarnya saja. Pernah pada saat aku kurang fokus memperhatikannya, ia menyuruhku untuk maju dan mengerjakan soal di papan tulis. Karena aku tidak tahu mau menjawab apa, aku meminta tolong temanku untuk membantuku memjawabnya. Teman-teman dikelas menduga bahwa pak Satria itu masih single (belum menikah), padahal pak Satria itu sudah menikah. Ujian tersulit itu pada waktu ujian dengan pak Satria. Susah untuk bertanya dengan teman yang lain bila ada soal yang tidak tahu jawabannya, setiap gerakan pasti ia tahu. Tapi alhamdulillah, nilai semester satu mata kuliah bahasa Inggris dengannya aku mendapat nilai A-.

Keesokan harinya, aku dan teman-teman di kelas mempelajari mata kuliah teori dan sejarah sastra dengan dosen pak Suhardi. Dibilang punya pengalaman dengan beliau pasti ada. Beliau ini masih dibilang belum tua-tua kali, tetapi tidak terlalu muda juga. Seperti sosok ayah yang berpenampilan rapi dan kesederhanaannya. Aku juga pernah bertemu dengan pak Suhardi di pamedan tempat pemberhentian bus UMRAH yang menjemput mahasiswa yang tidak memiliki kendaraan dan takut membawa kendaraan sendirian. Aku dan temanku menegurnya, karena pada saat itu kami berdua takut terlambat masuk mata kuliahnya. Tetapi karena melihatnya di sana membuat kami tenang, ya setidaknya kami belum terlambat masuk. Lucu saat pak Suhardi mengajar di kelas, ia menerangkan tanpa membuat kami merasa tegang belajar di kelas. Kadang-kadang, ia suka mengajak kami bercanda yang sangat menghibur kami. Pak Suhardi suka bercerita tentang sejarah-sejarah sastra. Ia juga sering bercerita yang diluar konteks materinya dan itu diceritakan berulang-ulang. Saat ujian pak Suhardi meninggalkan kami beberapa saat, sehingga kami bisa sedikit bekerja sama menjawab soal yang sulit, memang ini adalah cara yang tidak boleh diikuti tapi kami tidak tahu lagi bagaimana cara untuk menjawab soal yang susah. Nilai yang didapat juga lumayan A-.

Mata kuliah kedua di hari kamis ini adalah mata kuliah pendidikan agama. Ibu Zaitun adalah dosen mata kuliah ini. Dosen agama yang baik, tegas, dan gak sombong. Bu Zaitun pernah mengajarkan kami cara menjadi seorang guru yang bisa berbicara di depan kelas menyampaikan materi. Walaupun jantung ini berdebar kencang saat di suruh tampil ke depan bagaikan seorang guru yang sedang mengajar di kelas, tetapi alhamdulillah aku bisa melakukannya dan ibu pun mengatakan bahwa penampilanku menyampaikat materi sudah bagus. Di kelas, ibu Zaitun juga memberikan kami pengetahuan tentang agama yang kami sedikit dapatkan di sekolah dulu. Belajar mengaji, praktek shalat, dan belajar sejarah yang ada di pulau Penyengat. Setelah ujian semester, kami semua bersama-sama pergi ke pulau Penyengat.  Di sana ibu Zaitun menyuruh kami untuk menyetor sepuluh surat pendek untuk nilai tambahan, kami juga makan bersama dan shalat bersama.

Dan dosen yang terakhir mengajar pada mata kuliah di semester satu ini adalah pak Wagiman. Pak Wagiman mengajar pada mata kuliah Pengantar pendidikan di semester satu dan psikologi pendidikan pada semester dua. Dosen yang bisa dibilang sudah tua dibandingkan dosen yang lainnya, tetapi semangat mengajar dan ketepatan waktunya masuk ke kelas untuk mengajar itu harus di contoh. Karena tidak semua dosen bisa datang tepat waktu untuk mengajar di kelas. Pak Wagiman itu suka sekali bertanya tentang materi yang sudah di bahas di kelas pada pertemuan sebelumnya. Mengadakan presentasi perkelompok pada mahasiswanya yang benar-benar harus memperhatikan cara menyampaikan materi dan menjawab pertanyaan dari anggota kelompok yang lain. Mata kuliah yang santai materinya itu dengan pak Wagiman, karena selain materinya yang bisa menggunakan nalar dan pendapat kita untuk menjawabnya. Pernah pada saat masuk mata kuliahnya, aku dan temanku tidak hadir karena kami berdua mendapat kabar bahwa pak Wagiman tidak hadir. Tetapi, saat pukul dua belas siang kami mendapat kabar bahwa beliau masuk ke kelas untuk mengajar. Dengan keadaan panik, kami cepat-cepat segera pergi ke kampus walaupun jarak kampus dan rumah kami sangat jauh. Sampai di kampus, kami berlari ke kelas. Walaupun terlambat, kami memberanikan diri untuk masuk ke kelas. Saat menyalami pak Wagiman, beliau bertanya kenapa kami terlambat dan apa karena bus ? Kami pun menjawab “iya”, bohong agar tetap bisa mengikuti mata kuliahnya. Tiba-tiba beberapa menit kemudian, di kampus turun hujan. Tidak sadar kami pergi meminta izin keluar untuk menyelamatkan helm kami agar tidak basah. Saat kembali lagi ke kelas, kami baru sadar bahwa tadi kami terlambat dengan alasan bus yang telat, tetapi sekarang kami meminta izin keluar dan berlari menyelamatkan helm kami dari hujan. Apakah naik bus juga memakai helm ? Maafkan kami ya pak telah berbohong.

Di semester dua ini, tentunya dosen yang mengajar untuk semester ini berganti. Di semester ini, lebih banyak dosen perempuannya dibandingkan dosen laki-laki. Dan tentunya kami sangat beruntung karena bisa kembali berjumpa dengan pak Wagiman dengan mata kuliah psikologi pendidikan. Di semester dua ini, sepertinya beliau lebih tegas lagi dalam mengajar. Bagaimana tidak, setiap pertemuan pak Wagiman selalu bertanya tentang materi yang sebelumnya dan yang sedang di pelajari pada saat itu. Aku yang duduk sebelah Ranti (temanku) selalu saja dibuat jantungan, karena terkadang kami tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pak Wagiman dan paling lucu si Ranti, ia sampai keringat dingin menunggu namanya untuk di panggil menjadi giliran yang menjawab pertanyaan dari pak Wagiman. Tugas kelompok yang ia berikan pun sedikit berbeda dari tugas kelompok pada saat di semester satu. Di semester dua ini, presentasi kelompok dengan pak Wagiman ini seperti kami sedang melakukan seminar atau sidang menuju wisuda. Duduk di depannya, ditanya satu persatu, dan menurut pendapat masing-masing. Bagi yang mempelajari materi yang dibuat pasti bisa menjawabnya.

Lalu ada dosen cantik dan masih muda yang namanya bu Indah Pujiastuti. Bu Indah mengajar dengan dua mata kuliah yaitu mata kuliah belajar dan pembelajaran serta mata kuliah fonologi bahasa Indonesia. Tidak tau kenapa, bu Indah ini menurutku baik dan bersahabat. Di kelas, ia bisa membuat mahasiswanya menjadi nyaman dan tidak tegang mengikuti perkuliahan dengannya. Aku merasa ibu Indah sengaja bersikap seperti itu agar mahasiswanya bisa santai belajar di kelas. Bu Indah juga lumayan hafal dengan nama-nama mahasiswanya di kelas, apalagi dengan mahasiswa yang menurutnya aktif di kelas. Ia juga pernah membuat permainan yang masih menggunakan materi dalam belajar. Jadi, bukan sekedar main-main saja, tetapi juga sambil belajar. Saat bu Indah membuat permainan, aku memilih kelompok speaker yang merupakan materi mendengar. Kelompok ini mendapat misi mendengarkan percakapan seseorang yang akan di putarkan dan kami harus bisa menebak berapa kali kata “motivasi belajar” diucapkan dalam rekaman percakapan tersebut. Aku pun mendengarkan dengan baik-baik. Setelah rekaman itu selesai, aku pun yakin dan menjawab enam kali kata “motivasi belajar” itu diucapkan. Teman-teman dalam kelompokku tidak ada yang sependapat denganku, kalau hampir ada yaitu Yorendi yang menjawab tujuh kali dan yang lainnya ada yang menjawab sepuluh kali. Aku bingung, kenapa mereka bisa menjawab sepuluh kali. Jelas-jelas dalam rekaman itu hanya enam kali kata itu diucapkan. Akhirnya, kami sepakat untuk meminta bu Indah memutar kembali rekaman percakapan itu. Kami pun benar-benar mendengarkannya dan setelah selesai banyak dari mereka yang sepakat dengan jawabanku yaitu enam kali. Kami pun memutuskan menjawabnya sebanyak enak kali kata “motivasi belajar” itu di ucapkan. Bu Indah pun membenarkan jawaban kami, aku senang sekali karena aku tidak salah mendengar. Di kelas, bu Indah juga sepertinya hafal dengan namaku. UTS yang baru saja kami lakukan ada enaknya dan ada tidaknya. Mengapa ? Karena Bu Indah memberikan soal yang menurutku sedikit membingungkan pada mata kuliah fonologi bahasa Indonesia. Kalau UTS belajar dan pembelajaran sih benar-benar menggunakan pemikiran kami. Mudah-mudahan nilainya memuaskan.

Mata kuliah prosa fiksi dan drama ini yang menjadi dosen pengajarnya adalah bu Tessa Dwi leoni. Bu Tessa ini dosen yang lebih muda satu tahun di bawah umur bu Indah. Bu Tessa dosen yang cantik dan pintar. Tapi, maaf ya buk. Menurut cerita salah satu teman saya, bu Tessa ini termasuk dosen yang sombong. Katanya, pernah saat berjumpa dengan beliau mereka menyapanya tetapi bu Tessa hanya diam tanpa membalas sapaannya. Aku juga sedikit kesal dengannya, karena pada saat itu ia menyuruh kelompokku untuk presentasi di depan. Padahal, pada saat itu kami belum memiliki materi yang lengkap dikarenakan kami tidak diberikan materi yang akan dipresentasikan. Kami pun maju dengan membawa sedikit materi yang kami sudah sempat cari sebelumnya dalam waktu satu jam. Tibalah pada sesi tanya jawab yang biasa dilakukan setelah menyampaikan materi. Dengan sedikit materi yang kami punya, kami pun menjawab dengan seadanya. Ternyata bu Tessa mengatakan apa yang kami jawab itu salah, tetapi dengan nada yang sedikit meremehkan kami pun kurang menyukainya. Kami diam, tidak berbicara sedikit pun. Padahal, kalau saja kami tahu materinya tentu saja kami akan mempersiapkannya. Kurang nyaman dengan cara mengajarnya, yang kadang membuatku bingung.

Kalau dengan dosen yang satu ini, seperti kami sedang naik wahana roller coaster. Bagaimana tidak, setiap hari aku dan teman-teman dikelas dihadapkan pada situasi yang menegangkan. Mata kuliah tradisi Melayu dengan dosennya bu Tetty Kumalasari, beliau itu dikabarkan merupakan salah satu dosen yang tidak disukai oleh banyak mahasiswa. Karena selain mukanya yang jarang tersenyum, juga karena beliau itu suka marah dan pelit nilai. Aku juga mulai sedikit merasakannya, karena bu Tetty ini adalah PA-ku. Jadi aku sedikit tahu sifatnya. Beliau sulit ditemui karena sering tidak berada di kampus. Pernah pada saat mau UTS, beliau menyuruh mengumpulkan tugas dan lirs sebelum ujian berlangsung. Karena ketua tingkatnya belum datang, jadi aku yang mengumpulkannya. Aku pun meminta temanku untuk menemani mengantar tugas dan lirs yang ia suruh ke ruang dosen di mejanya. Padahal ia yang menyuruh untuk mengumpulkannya, tetapi raut wajahnya seperti orang marah atau tidak suka. Aku pun bingung untuk menanganinya, dengan sedikit terpaksa aku pun menuruti apa yang ia perintahkan. Kesal pada saat itu, ingin saja aku meninggalkan begitu saja kumpulan tugas itu di mejanya. Meminta tanda tangannya pun, kami harus melihat wajahnya yang selalu merengut.

Bu Isniani Leo Shanty, dosen yang bisa dibilang seniorjuga seperti pak Wagiman. Beliau mengajar pada mata kuliah berbicara. Beliau walaupun sudah tidak muda lagi, tetapi beliau punya toleransi untuk mahasiswa baru seperti kami. Menurutnya, kami ini masih belajar untuk beradaptasi dengar cara belajar di kampus yang berbeda jauh pada saat kami sekolah. Bu Shanty sangat sibuk sekali, sehingga beliau sering tidak dapat hadir untuk mengajar. Terkadang, bila hadir beliau tidak bisa berlama-lama untuk menyampaikan materi kepada kami. Kami semua memaklumi kesibukan bu Shanty.  Waktu pertama kali presentasi, kelompokku yang maju terlebih dahulu. Menyampaikan materi tentang diksi yang sebenarnya kami juga belum mengerti. Tetapi setelah selesai presentasi, beliau memberikan respon yang baik dan pujian kepada kami. Karena kami sebagai mahasiswa baru yang belum banyak dijelaskan materi dengannya, tetapi bisa mempresentasikan materi dengan baik di depan kelas. Itu semua membuat kami menjadi senang, terkadang ada dosen yang suka marah karena kami mempresentasikan materi kurang lengkap. Pada waktu UTS kemarin, kami ujiannya gabung bersama anak H2. Karena pada jadwal kami, hari kamis itu adalah tanggal merah. Sehingga jadwal ujian kami pun di percepat menjadi hari Rabu.

Dan yang terakhir bu Titik Dwi Ramthi, dosen sekaligus ketua jurusan prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Bu Titik mengajar dengan baik, cara berbicaranya yang lembut, dan tutur katanya juga sopan. Aku paling suka pada saat belajar sambil mendengarkan sebuah musik. Beliau juga menyukai itu, pernah beliau memberikan sebuat materi dengan di sisipkan beberapa alunan nada memutarkan lagu yang itu semua sangat membuat pikiran menjadi santai. Yang paling aku suka adalah saat ibu menyuruh kami untuk berdiri dan berpasangan, kami harus mengekspresikan wajah senang, sedih, takut, marah. Seperti seseorang yang sedang ikut chastting untuk menjadi artis dan bintang iklan. Aku sedih karena aku selalu tidak terpilih untuk maju sebagai orang yang berhasil berekspresi, padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin agar dapat menghayati berbagai macam ekspresi. Ya sudahlah tidak apa-apa, mungkin menurut bu Titik aku harus lebih belajar lagi. UTS dengan bu Titik lumayan membuat tenang sih, karena tidak ada ujian tertulis. Kami hanya di minta untuk mengumpulkan tugas individu dan kelompok, semacam tugas take home. Untuk UAS juga kami hanya mengumpulkan sebuah video. Tapi sayangnya, bu Titik tidak berada di kampus sehingga kami semua harus mengumpulkan tugas lewat sosial media yaitu sebuah blog.

Pengalaman dengan dosen di kampus masih belum terlalu banyak. Karena sibuknya waktu dosen yang dipakai untuk seminar kakak tingkat yang akan segera wisuda. Sebagian dosen ada yang dekat dengan mahasiswanya dan ada sebagian dosen juga yang hanya sekedar mengajar di mata kuliah tertentu. Di semester dua ini pastinya kami belum banyak mengenal dan memiliki banyak pengalaman dengan dosen. Tetapi, setidaknya kami mempunya beberapa cerita bersama dosen mata kuliah untuk satu tahun ini. Maafkan kami pak, bu, karena kami pernah berbohong. Kami harap untuk kedepannya, kami bisa memperbaiki kesalahan kami dan semangat untuk melakukan perkuliahan layaknya mahasiswa yang seharusnya.