Sabtu, 28 Mei 2016

Artikel Profil Berdasarkan Wawancara Secara Langsung

Nama            : Fitri Mahendi Prameswari
NIM              : 150388201075
Kelas             : H-03
Jurusan         : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas        : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Tugas            : Artikel Profil
Mata Kuliah : Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia





Nama                           : Ayu Fairera Damayanti
Tempat/Tanggal Lahir     : Tanjungpinang, 8 Agustus 1996
Jenis Kelamin               : Perempuan

Agama                         : Islam
Alamat                         : Jl. Bayan No.10 Perumnas
Kewarganegaraan         : WNI


Ayu Fairera Damayanti (19 tahun), mahasiswa Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH). Ia mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), dengan mengambil  jurusan bahasa Inggris. Ayu nama panggilannya, ia merupakan seorang mahasiswa yang memiliki kepribadian yang baik. Tidak hanya cantik, ia juga berprestasi di kampus karena selama dua semester yaitu semester satu dan tiga, ia mendapatkan IP yang paling tinggi dan pada semester dua ia juga mendapatkan IP yang paling tinggi di kelasnya. Ia pernah terpilih menjadi ketua tingkat di kelasnya, serta pernah ikut acara Internasional yang diadakan oleh UMRAH. Karena pada saat itu UMRAH bekerja sama dengan Universitas Singapur dan Ayu pun menjadi salah satu mahasiswa yang terpilih untuk mengikutinya.

                Di UMRAH, Ayu mengambil jurusan bahasa Inggris. Karena menurutnya bahasa Inggris adalah jurusan yang memiliki banyak keuntungan, selain karena bahasa Inggris merupakan bahasa Internasional tetapi juga karena tingkat daya saingnya yang tidak cukup sulit dibandingkan tingkat daya saing Universitas di kota lainnya.

“Banyak orang yang malas mempelajari bahasa Inggris, dasar-dasarnya, serta memperdalam keahlian di bidang ini.” Ujarnya.

Ayu memiliki cita-cita menjadi seorang guru bahasa Inggris, Ayu juga ingin memiliki usaha yaitu membuka tempat bimbel. Ditanya soal pendidikan, Ayu adalah siswa lulusan SMK Negeri 2 jurusan tata boga. Tetapi, ia ingin sekali mengasah kemampuannya dalam berbahasa asing. Menurut Ayu, pendidikan itu tidak harus dari kampus saja melainkan dari lingkungan lain juga sangat membantu dalam pendidikannya seperti seminar, tempat kerja, dan lain-lain.

Rencananya dalam jangka pendek Ayu ingin meraih nilai kumlout saat wisuda dan lulus selama 4 tahun, kira-kira empat semester lagi kuliahnya selesai bila tidak ada halangan. Dalam jangka panjang, Ayu berencana untuk bekerja sebagai guru dulu. Bila ada kesempatan dan tidak ada halangan, Ayu akan melanjutkan pendidikannya ke s2. Lulus dengan nilai kumlout sudah di pikirkan Ayu dengan matang-matang sejak ia selesai SMA. Ia sudah menargetkan akan menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dan lulus dengan nilai terbaik. Bagi Ayu, ia tidak ingin membuang-buang waktu dan banyak uang. Lulus kuliah selama empat tahun, ia bisa merintis karir dengan cepat sebagai guru bahasa Inggris. Dengan persiapan seperti sekarang, Ayu memaksimalkan pendidikannya. Selama kuliah Ayu tidak pernah mengulang mata kuliah yang ia jalani. Ayu juga sangat hyper aktif di kampus, ia tidak ingin seperti mahasiswa kupu-kupu yang banyak diam. Tetapi, Ayu ingin menjadi mahasiswa yang mandiri dan berani.

Tidak hanya cantik dan berprestasi saja, Ayu juga sangat rajin bekerja. Selain kuliah, Ayu juga memiliki pekerjaan sampingan. Dari awal karirnya, ia mengharapkan bahwa dirinya bisa mandiri. Tidak menyusahkan orang tuanya lagi, karena ia sudah menghasilkan uang untuk membantu orang tuanya membayar uang kuliah dan bisa membeli kebutuhan yang ia inginkan sendiri. Ayu membagi tujuan hidupnya menjadi dua, yaitu kuliah dan kerja. Dalam pekerjaan, Ayu berencana mengembangkan usaha yang berbau seperti tempat kerjanya sekarang, dibandingkan hanya diam di rumah saja tanpa melakukan apa-apa. Sedangkan kuliah, ia memfokuskan ke arah cita-citanya yang ingin menjadi seorang guru.

“Menurut saya, sukses itu tidak harus bergelar s3, profesor, atau pun dokter. Sukse itu di mana kita bisa membuat diri kita ini berguna bagi semua orang, ilmunya bisa bermanfaat untuk orang banyak. Dan sukses itu juga tergantung dalam masalah hati, kita perlu mendekatkan diri kepada Allah. Jadi, tidak perlu pendidikan tinggi, tetapi bisa membahagiakan diri sendiri dan orang lain itu sudah sukses menurut saya.”  Tambah ayu.


Ayu termasuk mahasiswa yang sangat humble. Ia tidak suka dengan perdebatan yang membahas hal-hal yang menurutnya tidak penting. Ayu lebih suka berdebat di acara formal, dimana kegiatan tersebut lebih memiliki tujuan dan mendapatkan hasilnya. Maka dari itu, ia sangat berharap semua mahasiswa di UMRAH bisa seperti dirinya.

Selasa, 17 Mei 2016

Pengalaman Bersama Dosen

Nama            : Fitri Mahendi Prameswari
NIM              : 150388201075
Kelas             : H-03
Jurusan         : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas        : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Tugas            : Membuat karangan cerpen
Mata Kuliah : Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia



Kumpulan Kisah Nyata 1001 Pengalaman Kelas H3

Hai, namaku Fitri Mahendi Prameswari. Senang sekali kalau sudah lulus SMA dan sekarang melanjutkannya ke tingkat yang lebih tinggi yaitu di salah satu perguruan tinggi. Aku memutuskan untuk mendaftar di perguruan tinggi negeri “Universitas Maritim Raja Ali Haji” atau biasa disebut UMRAH. UMRAH merupakan satu-satunya universitas negeri yang ada di kota Tanjungpinang. Apalagi, sekarang tidak perlu memakai seragam lagi. Di Umrah ini juga memiliki dosen yang sifatnya macam-macam. Selama hampir satu tahun ini, aku memiliki banyak pengalaman dengan teman-teman dan dosen. Perasaan cemas pasti ada untuk mahasiswa baru sepertiku, memikirkan apakah dosen-dosen di UMRAH ini lebih menakutkan dari guru yang mengajar di SMA ? Ketika dosen pertama masuk ke kelas, memang belum masuk ke materi hanya perkenalan awal saja. Dosen-dosen silih berganti masuk kelasku. Awal masuk kuliah di hari Senin, dosen yang pertama kali masuk di kelasku untuk mengajar adalah bu Legi Elfitra. Bu Legi mengajar di kelasku pada mata kuliah perencanaan pengajaran bahasa Indonesia. Penampilan bu Legi sangat sopan sekali, karena beliau memakai jilbab dan pakaian yang rapi. Beliau mengajar dengan sangat baik, cara berbicara yang lembut membuat aku merasa nyaman dan cukup mengerti dengan apa yang ia sampaikan saat menerangkan materi di kelas. Bu Legi juga mengajar mata kuliah linguistik umum menggantikan bu Wahyu Indriyati yang sedang cuti untuk melahirkan. Pernah ada rasa kesal saat bu Legi mengajar mata kuliah ini, penyebabnya karena bu Legi hampir jarang masuk untuk mengajar. Sehingga kami sebagai mahasiswa menjadi kurang mengerti dengan materi linguistik umum ini. Untung saja beliau masih menyempatkan untuk mengajar kami pada beberapa minggu menjelang UTS (Ujian Tengah Semester) dan UAS (Ujian Akhir Semester), sehingga kami bisa mengerjakan ujian pada saat itu. Tetapi, kami semua memahami kondisi bu Legi yang sibuk. Bisa dibilang bu Legi mengenalku saat di kelas, karena aku cukup aktif di kelas, tidak pernah absen, semua tugas selalu dikerjakan dan dikumpulkan tepat waktu.

Pada mata kuliah selanjutnya, jantungku kembali berdebar-debar menunggu dosen masuk. Pak Robby Patria adalah dosen mata kuliah kedua di hari Senin ini. Beliau mengajar pada mata kuliah pendidikan kewarganegaraan. Penampilan yang selalu rapi dengan rambutnya yang tipis dan kacamatanya. Cukup tegang saat mengikuti mata kuliah ini, karena pak Robby sering bertanya kepada salah satu mahasiswanya mengenai materi yang sedang dipelajari. Terkadang aku juga sering terkena giliran menjawab pertanyaannya. Ntah apa yang harus aku katakan, aku takut salah menjawabnya. Pernah saat UAS, aku dan temanku Eka lupa membawa lirs. Untung saja pak Robby masih memberikan kesempatan untuk tetap mengikuti UAS. Keesokan harinya, aku dan Eka mencari pak Robby tetapi tidak ketemu. Alhasil, lirs pada kolom UAS mata kuliahnya belum di tanda tangani olehnya. Sedih, karena lirs ini syarat untuk mengurus wisuda dan harus lengkap ditanda tangani oleh setiap dosen mata kuliah. Malasnya saat pelajaran mata kuliah pak Robby ini, terkadang membosankan. Itu semua karena materi yang terlalu sulit, mata kuliah yang masuknya selalu siang, cara berbicara pak Robby yang terkadang sedikit meninggi dan membingungkan. Ada waktu bercanda juga untuk menghilangkan rasa ngantuk. Penjagaan UAS yang sangat ketat, sulit untuk mencontek.

Masuk mata kuliah ketiga di hari selasa pada jam pertama yaitu mata kuliah bahasa Inggris dengan dosennya pak Satria Agus. Bisa dibilang dosen yang gokil sih, dosen yang lucu cara bicaranya. Sebenarnya, mata kuliah ini adalah mata kuliah yang tidak aku sukai. Selain karena mempelajari materinya yang kadang sulit aku terjemahkan, tetapi karena pak Satria ini orang yang memahami kekurangan mahasiswanya dalam berbahasa Inggris. Dosen yang sabar mengulang kembali materi agar mahasiswanya bisa memahami materi yang ia sampaikan. Pak Satria sering memberikan tugas kelompok tentang percakapan menggunakan bahasa Inggris, melatih cara berbicara dan menghafal kata demi kata yang sebelumnya hanya aku tau dasarnya saja. Pernah pada saat aku kurang fokus memperhatikannya, ia menyuruhku untuk maju dan mengerjakan soal di papan tulis. Karena aku tidak tahu mau menjawab apa, aku meminta tolong temanku untuk membantuku memjawabnya. Teman-teman dikelas menduga bahwa pak Satria itu masih single (belum menikah), padahal pak Satria itu sudah menikah. Ujian tersulit itu pada waktu ujian dengan pak Satria. Susah untuk bertanya dengan teman yang lain bila ada soal yang tidak tahu jawabannya, setiap gerakan pasti ia tahu. Tapi alhamdulillah, nilai semester satu mata kuliah bahasa Inggris dengannya aku mendapat nilai A-.

Keesokan harinya, aku dan teman-teman di kelas mempelajari mata kuliah teori dan sejarah sastra dengan dosen pak Suhardi. Dibilang punya pengalaman dengan beliau pasti ada. Beliau ini masih dibilang belum tua-tua kali, tetapi tidak terlalu muda juga. Seperti sosok ayah yang berpenampilan rapi dan kesederhanaannya. Aku juga pernah bertemu dengan pak Suhardi di pamedan tempat pemberhentian bus UMRAH yang menjemput mahasiswa yang tidak memiliki kendaraan dan takut membawa kendaraan sendirian. Aku dan temanku menegurnya, karena pada saat itu kami berdua takut terlambat masuk mata kuliahnya. Tetapi karena melihatnya di sana membuat kami tenang, ya setidaknya kami belum terlambat masuk. Lucu saat pak Suhardi mengajar di kelas, ia menerangkan tanpa membuat kami merasa tegang belajar di kelas. Kadang-kadang, ia suka mengajak kami bercanda yang sangat menghibur kami. Pak Suhardi suka bercerita tentang sejarah-sejarah sastra. Ia juga sering bercerita yang diluar konteks materinya dan itu diceritakan berulang-ulang. Saat ujian pak Suhardi meninggalkan kami beberapa saat, sehingga kami bisa sedikit bekerja sama menjawab soal yang sulit, memang ini adalah cara yang tidak boleh diikuti tapi kami tidak tahu lagi bagaimana cara untuk menjawab soal yang susah. Nilai yang didapat juga lumayan A-.

Mata kuliah kedua di hari kamis ini adalah mata kuliah pendidikan agama. Ibu Zaitun adalah dosen mata kuliah ini. Dosen agama yang baik, tegas, dan gak sombong. Bu Zaitun pernah mengajarkan kami cara menjadi seorang guru yang bisa berbicara di depan kelas menyampaikan materi. Walaupun jantung ini berdebar kencang saat di suruh tampil ke depan bagaikan seorang guru yang sedang mengajar di kelas, tetapi alhamdulillah aku bisa melakukannya dan ibu pun mengatakan bahwa penampilanku menyampaikat materi sudah bagus. Di kelas, ibu Zaitun juga memberikan kami pengetahuan tentang agama yang kami sedikit dapatkan di sekolah dulu. Belajar mengaji, praktek shalat, dan belajar sejarah yang ada di pulau Penyengat. Setelah ujian semester, kami semua bersama-sama pergi ke pulau Penyengat.  Di sana ibu Zaitun menyuruh kami untuk menyetor sepuluh surat pendek untuk nilai tambahan, kami juga makan bersama dan shalat bersama.

Dan dosen yang terakhir mengajar pada mata kuliah di semester satu ini adalah pak Wagiman. Pak Wagiman mengajar pada mata kuliah Pengantar pendidikan di semester satu dan psikologi pendidikan pada semester dua. Dosen yang bisa dibilang sudah tua dibandingkan dosen yang lainnya, tetapi semangat mengajar dan ketepatan waktunya masuk ke kelas untuk mengajar itu harus di contoh. Karena tidak semua dosen bisa datang tepat waktu untuk mengajar di kelas. Pak Wagiman itu suka sekali bertanya tentang materi yang sudah di bahas di kelas pada pertemuan sebelumnya. Mengadakan presentasi perkelompok pada mahasiswanya yang benar-benar harus memperhatikan cara menyampaikan materi dan menjawab pertanyaan dari anggota kelompok yang lain. Mata kuliah yang santai materinya itu dengan pak Wagiman, karena selain materinya yang bisa menggunakan nalar dan pendapat kita untuk menjawabnya. Pernah pada saat masuk mata kuliahnya, aku dan temanku tidak hadir karena kami berdua mendapat kabar bahwa pak Wagiman tidak hadir. Tetapi, saat pukul dua belas siang kami mendapat kabar bahwa beliau masuk ke kelas untuk mengajar. Dengan keadaan panik, kami cepat-cepat segera pergi ke kampus walaupun jarak kampus dan rumah kami sangat jauh. Sampai di kampus, kami berlari ke kelas. Walaupun terlambat, kami memberanikan diri untuk masuk ke kelas. Saat menyalami pak Wagiman, beliau bertanya kenapa kami terlambat dan apa karena bus ? Kami pun menjawab “iya”, bohong agar tetap bisa mengikuti mata kuliahnya. Tiba-tiba beberapa menit kemudian, di kampus turun hujan. Tidak sadar kami pergi meminta izin keluar untuk menyelamatkan helm kami agar tidak basah. Saat kembali lagi ke kelas, kami baru sadar bahwa tadi kami terlambat dengan alasan bus yang telat, tetapi sekarang kami meminta izin keluar dan berlari menyelamatkan helm kami dari hujan. Apakah naik bus juga memakai helm ? Maafkan kami ya pak telah berbohong.

Di semester dua ini, tentunya dosen yang mengajar untuk semester ini berganti. Di semester ini, lebih banyak dosen perempuannya dibandingkan dosen laki-laki. Dan tentunya kami sangat beruntung karena bisa kembali berjumpa dengan pak Wagiman dengan mata kuliah psikologi pendidikan. Di semester dua ini, sepertinya beliau lebih tegas lagi dalam mengajar. Bagaimana tidak, setiap pertemuan pak Wagiman selalu bertanya tentang materi yang sebelumnya dan yang sedang di pelajari pada saat itu. Aku yang duduk sebelah Ranti (temanku) selalu saja dibuat jantungan, karena terkadang kami tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pak Wagiman dan paling lucu si Ranti, ia sampai keringat dingin menunggu namanya untuk di panggil menjadi giliran yang menjawab pertanyaan dari pak Wagiman. Tugas kelompok yang ia berikan pun sedikit berbeda dari tugas kelompok pada saat di semester satu. Di semester dua ini, presentasi kelompok dengan pak Wagiman ini seperti kami sedang melakukan seminar atau sidang menuju wisuda. Duduk di depannya, ditanya satu persatu, dan menurut pendapat masing-masing. Bagi yang mempelajari materi yang dibuat pasti bisa menjawabnya.

Lalu ada dosen cantik dan masih muda yang namanya bu Indah Pujiastuti. Bu Indah mengajar dengan dua mata kuliah yaitu mata kuliah belajar dan pembelajaran serta mata kuliah fonologi bahasa Indonesia. Tidak tau kenapa, bu Indah ini menurutku baik dan bersahabat. Di kelas, ia bisa membuat mahasiswanya menjadi nyaman dan tidak tegang mengikuti perkuliahan dengannya. Aku merasa ibu Indah sengaja bersikap seperti itu agar mahasiswanya bisa santai belajar di kelas. Bu Indah juga lumayan hafal dengan nama-nama mahasiswanya di kelas, apalagi dengan mahasiswa yang menurutnya aktif di kelas. Ia juga pernah membuat permainan yang masih menggunakan materi dalam belajar. Jadi, bukan sekedar main-main saja, tetapi juga sambil belajar. Saat bu Indah membuat permainan, aku memilih kelompok speaker yang merupakan materi mendengar. Kelompok ini mendapat misi mendengarkan percakapan seseorang yang akan di putarkan dan kami harus bisa menebak berapa kali kata “motivasi belajar” diucapkan dalam rekaman percakapan tersebut. Aku pun mendengarkan dengan baik-baik. Setelah rekaman itu selesai, aku pun yakin dan menjawab enam kali kata “motivasi belajar” itu diucapkan. Teman-teman dalam kelompokku tidak ada yang sependapat denganku, kalau hampir ada yaitu Yorendi yang menjawab tujuh kali dan yang lainnya ada yang menjawab sepuluh kali. Aku bingung, kenapa mereka bisa menjawab sepuluh kali. Jelas-jelas dalam rekaman itu hanya enam kali kata itu diucapkan. Akhirnya, kami sepakat untuk meminta bu Indah memutar kembali rekaman percakapan itu. Kami pun benar-benar mendengarkannya dan setelah selesai banyak dari mereka yang sepakat dengan jawabanku yaitu enam kali. Kami pun memutuskan menjawabnya sebanyak enak kali kata “motivasi belajar” itu di ucapkan. Bu Indah pun membenarkan jawaban kami, aku senang sekali karena aku tidak salah mendengar. Di kelas, bu Indah juga sepertinya hafal dengan namaku. UTS yang baru saja kami lakukan ada enaknya dan ada tidaknya. Mengapa ? Karena Bu Indah memberikan soal yang menurutku sedikit membingungkan pada mata kuliah fonologi bahasa Indonesia. Kalau UTS belajar dan pembelajaran sih benar-benar menggunakan pemikiran kami. Mudah-mudahan nilainya memuaskan.

Mata kuliah prosa fiksi dan drama ini yang menjadi dosen pengajarnya adalah bu Tessa Dwi leoni. Bu Tessa ini dosen yang lebih muda satu tahun di bawah umur bu Indah. Bu Tessa dosen yang cantik dan pintar. Tapi, maaf ya buk. Menurut cerita salah satu teman saya, bu Tessa ini termasuk dosen yang sombong. Katanya, pernah saat berjumpa dengan beliau mereka menyapanya tetapi bu Tessa hanya diam tanpa membalas sapaannya. Aku juga sedikit kesal dengannya, karena pada saat itu ia menyuruh kelompokku untuk presentasi di depan. Padahal, pada saat itu kami belum memiliki materi yang lengkap dikarenakan kami tidak diberikan materi yang akan dipresentasikan. Kami pun maju dengan membawa sedikit materi yang kami sudah sempat cari sebelumnya dalam waktu satu jam. Tibalah pada sesi tanya jawab yang biasa dilakukan setelah menyampaikan materi. Dengan sedikit materi yang kami punya, kami pun menjawab dengan seadanya. Ternyata bu Tessa mengatakan apa yang kami jawab itu salah, tetapi dengan nada yang sedikit meremehkan kami pun kurang menyukainya. Kami diam, tidak berbicara sedikit pun. Padahal, kalau saja kami tahu materinya tentu saja kami akan mempersiapkannya. Kurang nyaman dengan cara mengajarnya, yang kadang membuatku bingung.

Kalau dengan dosen yang satu ini, seperti kami sedang naik wahana roller coaster. Bagaimana tidak, setiap hari aku dan teman-teman dikelas dihadapkan pada situasi yang menegangkan. Mata kuliah tradisi Melayu dengan dosennya bu Tetty Kumalasari, beliau itu dikabarkan merupakan salah satu dosen yang tidak disukai oleh banyak mahasiswa. Karena selain mukanya yang jarang tersenyum, juga karena beliau itu suka marah dan pelit nilai. Aku juga mulai sedikit merasakannya, karena bu Tetty ini adalah PA-ku. Jadi aku sedikit tahu sifatnya. Beliau sulit ditemui karena sering tidak berada di kampus. Pernah pada saat mau UTS, beliau menyuruh mengumpulkan tugas dan lirs sebelum ujian berlangsung. Karena ketua tingkatnya belum datang, jadi aku yang mengumpulkannya. Aku pun meminta temanku untuk menemani mengantar tugas dan lirs yang ia suruh ke ruang dosen di mejanya. Padahal ia yang menyuruh untuk mengumpulkannya, tetapi raut wajahnya seperti orang marah atau tidak suka. Aku pun bingung untuk menanganinya, dengan sedikit terpaksa aku pun menuruti apa yang ia perintahkan. Kesal pada saat itu, ingin saja aku meninggalkan begitu saja kumpulan tugas itu di mejanya. Meminta tanda tangannya pun, kami harus melihat wajahnya yang selalu merengut.

Bu Isniani Leo Shanty, dosen yang bisa dibilang seniorjuga seperti pak Wagiman. Beliau mengajar pada mata kuliah berbicara. Beliau walaupun sudah tidak muda lagi, tetapi beliau punya toleransi untuk mahasiswa baru seperti kami. Menurutnya, kami ini masih belajar untuk beradaptasi dengar cara belajar di kampus yang berbeda jauh pada saat kami sekolah. Bu Shanty sangat sibuk sekali, sehingga beliau sering tidak dapat hadir untuk mengajar. Terkadang, bila hadir beliau tidak bisa berlama-lama untuk menyampaikan materi kepada kami. Kami semua memaklumi kesibukan bu Shanty.  Waktu pertama kali presentasi, kelompokku yang maju terlebih dahulu. Menyampaikan materi tentang diksi yang sebenarnya kami juga belum mengerti. Tetapi setelah selesai presentasi, beliau memberikan respon yang baik dan pujian kepada kami. Karena kami sebagai mahasiswa baru yang belum banyak dijelaskan materi dengannya, tetapi bisa mempresentasikan materi dengan baik di depan kelas. Itu semua membuat kami menjadi senang, terkadang ada dosen yang suka marah karena kami mempresentasikan materi kurang lengkap. Pada waktu UTS kemarin, kami ujiannya gabung bersama anak H2. Karena pada jadwal kami, hari kamis itu adalah tanggal merah. Sehingga jadwal ujian kami pun di percepat menjadi hari Rabu.

Dan yang terakhir bu Titik Dwi Ramthi, dosen sekaligus ketua jurusan prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Bu Titik mengajar dengan baik, cara berbicaranya yang lembut, dan tutur katanya juga sopan. Aku paling suka pada saat belajar sambil mendengarkan sebuah musik. Beliau juga menyukai itu, pernah beliau memberikan sebuat materi dengan di sisipkan beberapa alunan nada memutarkan lagu yang itu semua sangat membuat pikiran menjadi santai. Yang paling aku suka adalah saat ibu menyuruh kami untuk berdiri dan berpasangan, kami harus mengekspresikan wajah senang, sedih, takut, marah. Seperti seseorang yang sedang ikut chastting untuk menjadi artis dan bintang iklan. Aku sedih karena aku selalu tidak terpilih untuk maju sebagai orang yang berhasil berekspresi, padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin agar dapat menghayati berbagai macam ekspresi. Ya sudahlah tidak apa-apa, mungkin menurut bu Titik aku harus lebih belajar lagi. UTS dengan bu Titik lumayan membuat tenang sih, karena tidak ada ujian tertulis. Kami hanya di minta untuk mengumpulkan tugas individu dan kelompok, semacam tugas take home. Untuk UAS juga kami hanya mengumpulkan sebuah video. Tapi sayangnya, bu Titik tidak berada di kampus sehingga kami semua harus mengumpulkan tugas lewat sosial media yaitu sebuah blog.

Pengalaman dengan dosen di kampus masih belum terlalu banyak. Karena sibuknya waktu dosen yang dipakai untuk seminar kakak tingkat yang akan segera wisuda. Sebagian dosen ada yang dekat dengan mahasiswanya dan ada sebagian dosen juga yang hanya sekedar mengajar di mata kuliah tertentu. Di semester dua ini pastinya kami belum banyak mengenal dan memiliki banyak pengalaman dengan dosen. Tetapi, setidaknya kami mempunya beberapa cerita bersama dosen mata kuliah untuk satu tahun ini. Maafkan kami pak, bu, karena kami pernah berbohong. Kami harap untuk kedepannya, kami bisa memperbaiki kesalahan kami dan semangat untuk melakukan perkuliahan layaknya mahasiswa yang seharusnya.

Menganalisis Cerpen

Nama            : Fitri Mahendi Prameswari
NIM              : 150388201075
Kelas             : H-03
Jurusan         : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas        : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Tugas            : Membuat karangan cerpen
Mata Kuliah : Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia


”PILIHAN”
Oleh Toha Mohtar

Pagi ini rencana dalam kepalaku sudah rapi. Menghampiri Didi di rumahnya, ke Gelanggang Remaja ikut merebut Piala Kejuaraan sekabupaten, pesta di sekolah, menerima rapor, esoknya pulang liburan dengan mengayuh sepeda sejauh seratus tiga puluh kilometer. Tetapi, keluar kamar mandi bibiku sudah menghadang  di depan pintu. Wajahnya tidak cerah.

“Sini, Dam! Barusan Om Herman kemari. Ada kabar Samsul sakit. Sudah empat minggu ini di rumah sakit, kena thypus.”

Mendadak kepalaku seprti kosong, lenyap semua rencana, pelan-pelan terbayang Samsul adikku.

“Lho, kok diam. Cepat pakai baju. Siapkan yang perlu kau bawa. Kita berangkat dengan kijang Om Herman pukul delapan.”

“kok baru sekarang beritanya, bi?”

“Tahulah! Barangkali ayahmu cemas kalau akan mengganggu ulangan umummu.”

Dari kamar aku masih dengar suara bibi, “Ini kusiapkan surat untuk Kepala Sekolah, mohon absen dan tidak bisa ikut main bulu tangkis. Ada cadanganya, kan?”

Aku turun halaman dengan surat bibi di tangan, sementara suaranya masih mengejar dari belakang, “Jangan terlalu lama, lh.o, Dam! Waktu besuk pukul sebelas.”

Jalanan masih sepi. Satu dua orang ibu-ibu mencegat bakul sayuran, beberapa becak di tikungan menanti muatan. Didi terkejut melihat kedatanganku di pagi buta dengan napasku yang naik turun.

Kuceritakan seluruhnya kepada dia, kutunjukkan surat bibi, dan bahwa dengan amat menyesal aku tidak bias memperkuat regu. Didi mendengarkan dengan diam, kepalanya menunduk, ia tidak segera berbicara. Sejak semula ia mengharapkan piala idaman itu terutama melalui permainanku.

“Dam!”, katanya sungguh-sungguh, “Kagetku mendengar sakitnya Samsul tidak kurang dari yang kau alami ketika kau dengar pertama kali. Kau bilang ia sudah empat minggu dalam rawatan rumah sakit. Bahaya yang menakutkan itu sudah lewat, tak perlu kau risaukan, Samsul selamat, bahkan engkau harus bersyukur!”

“Benar, Di?”

“Lho, apa gunanya aku jadi anaknya Dokter Harun?” Didi bisa tertawa sekarang,dan hatiku tidak begitu tegang lagi.

Didi diam, aku juga diam. Kukira banyak yang hendak ia katakan, dan hendak menimbang mana yang mesti didahulukan.

“Yang paling penting hari ini,” katanya, “Engkau bertemu Samsul tepat waktunya ketika pintu besuk pasien dibuka, pukul sebelas.” Didi berhenti, memberi waktu bagiku untuk memahami ucapannya.

“Tetapi itu itdak berarti bahwa engkau harus berangkat bersama Paman dan Bibi dengan kijang Om Herman, kan?” Di sini Didi berhenti lagi, dan aku mulai meraba ke mana sesungguhnya arah pembicaraannya.

“Maksudmu?”

“Engkau berangkat bersama kami dengan mobil lain. Leila, Tommy dan Songkar pasti ingin menjenguk Samsul. Kita berangkat pukul sembilan dengan sopir Mang Karta.”

“sopir ayahmu?”

“Ya! Dia bekas seorang sopir ambulans di kota ini. Dia bisa sampai di kotamu dalam waktu dua jam, tidak kurang.”

“Tetapi,”

Didi memotong, “Aku akan bicara dengan Paman dan Bibi serta Om Herman. Aku yang urus kendaraan dan sopirnya, itu tugasku. Tugasmu turun lapangan pukul delapan, mengalahkan lawanmu jangan lebih dari empat puluh lima menit.”

Didi menatap mataku seperti ia menantikan pikiranku.

“Dam! Kalau memang masih ada pilihan, kenapa kita tidak ambil yang terbaik. Baik untukmu, baik untuk Samsul, baik untuk teman-teman, baik untuk kita semua.”

Kulurkan tanganku, ia menjabatnya erat sekali. Surat bibiku kuremas-remas dan kubuang dalam keranjang sampah.

Aku turun lapangan pukul delapan tepat, barangkali sama waktunya dengan keberangkatan kijang Om Herman. Didi tak kulihat di antara teman-teman yang mengelilingi lapangan. Di atas kulihat wartawan radio mulai menyiarkan pertandingan final ini untuk pertama kali. Lawanku bertubuh tegap dan tinggi dengan pukulan bolanya yang amat keras dan kencang.

Aku sudah kenal dengan permainan anak ini. Dalam beberapa menit bertanding, aku sudah kenal gayanya. Ia tidak begitu peduli buat tahu kemampuan lawan, senang mengundang tepuk tangan, dan amat boros dengan tenaga. Pada babak pertama ia main menggebu-gebu dengan loncatanya yang amat garang. Ia terus meniggalkanku dari angka ke angka, dan aku hanya perlu menempatkan bola yang membuatnya terus bergerak. Menjelang akhir babak, ia mulai tampak loyo. Keringatnya deras mengalir dan pukulannya tak lagi tajam. Ini membuatku tidak sulit mengejar ketinggalanku, dan aku berhasil menutup babak pertama ini dengan kemenangan tipis. Tetapi babak kedua lawanku sudah kehabisan segalanya, dan ia runtuh karena kesalhan sendiri. Perlawanan itu berakhir lebih cepat dari yang Didi minta.

Didi menyambutku di luar lapangan sambil berbisik, “Beres!Cuma Mang Karta berhalangan. Jangan cemas, ada yang lain.”

Sesudah membersihkan keringat dan ganti baju, kami berempat berjalan menuju mobil. Betapa aku terkejut melihat Dokter Harun duduk di belakang setir. Ia memberiku salam dengan jabatan tangan lalu mematikan radio.

Didi tersenyum-senyum.

“Wah, hebat juga kalian, disiarkan langsung lewat radio. Kukira engkau kalah mulanya, Dam!”

Kami berangkat pukul sembilan masih kurang sepuluh menit. Barangkali kijang Om Herman 40 kilometer di depan kami.

Didi benar. Ayahnya lebih tampak seorang jago balap daripada seorang dokter. Di bawah tangannya, mobil bergera dengan mulus, mesinnya yang 2000 cc menarik tanpa suara. Di luar kota, di bulak-bulak tebu yang sepi dan panjang itu mobil melncur seperti anak panah. Jarum kecepatan lebih banyak di atas angka seratus.

Kami memasuki halaman rumah sakit sebelum pukul sebelas. Di tempat parkir aku tidak menemukan kijang Om Herman.

Didi dan anak-anak disuruh menunggu di luar, aku di bawa Dokter Harun memasuki ruang dokter. Ia menemui seorang sahabatnya. Seorang jururawat membimbingku ke kamar Samsul. Penjelasan yang diberikan jururawat sama dengan dugaan Didi. Kendati tubuh Samsul kurus kering dan rambutnya hampir rontok semua, ia sudah boleh dianggap sembuh. Meski demikian, menetes juga air mataku waktu menatapnya untuk pertam kali.

“Mas Dam menang, ya?”, sambutnya dengan uluran tangannya yang telah tipis itu.

“Dari mana kau tahu, Sul?”, tanyaku dengan senyum paksa.

Samsul menarik radio saku Sanyo yang kukirim padanya lima bulan yang lalu, dari balik bantal.

“Regumu juga menang dan mendapatkan piala. Selamat, ya! Kalau tidak sakit aku sudah pasti nonton.”

Lonceng besuk berbunyi lantang. Para pengunjung memasuki ruangan dengan suara langkah kaki terseret di atas ubin. Waktu aku menoleh, kulihat Paman, Bibi, Om Herman, Ayah, dan Ibu berduyun-duyun mendekati depan Samsul. Semua terkejut melihat aku sudah di dalam.

“Dam!”, seru Paman, “kau naik burok, ya? Kan belum lama kami dengar kau ikut main.” Mereka itu ternyata juga mendengarkan siaran radio di mobil. Dokter Harun muncul dari seberang diikuti Didi dan teman-temannya. Mereka bersalaman, dan barulah mereka mengerti bagaimana kami bisa mengejar mereka.


Betapa senang hatiku pada hari itu. Aku tidak mengecewakan keluarga, aku bisa menghabiskan hari liburku untuk ikut mendampingi Samsul sampai sembuh sama sekali. Didi benar. Ia telah menolongku untuk mengambil pilihan yang terbaik dengan menggunakan kerja pikirannya yang tidak tergesa-gesa.



Menganalisis cerpen “Pilihan” karya Toha Mohtar
Unsur intrinsik :
·         Tema
Seorang anak yang dihadapkan pada beberapa pilihan yang sulit, yang mana harus memilih sebuah pilihan yang terbaik untuknya dan semua orang.

·         Alur
Maju. Karena jalan ceritanya tidak menceritakan masa lalu, tetapi masa sekarang yang sedang dijalani. Dalam cerpen ini memiliki pelaku lebih sedikit sehingga hubungan antarpelakusaling berhubungan. Tiap-tiap cerita, tokoh, perilaku, dan peristiwanya merupakan bagian yang telah dirancang baik-baik, searah, dan seimbang.

·         Latar
-        Latar tempat
1)        Di rumah sakit
2)        Di lapangan pertandingan bulu tangkis

-        Latar waktu
Pagi hari

-        Latar suasana
1)      Bimbang
2)      Senang
3)      Terharu

·         Tokoh dan penokohan
1.       Dam
Sifatnya atau wataknya belum bisa menentukan sebuah pilihan yang terbaik, selalu bimbang, dan orangnya penurut.

2.       Bibi Dam
Sifatnya agak kasar, suka menyuruh Dam dengan perkataan kasar.

3.       Didi
Sifatnya baik, suka menolong, bijak dalam menyikapi sesuatu, dapat mencari solusi yang terbaik seperti mencari solusi untuk Dam dengan pilihan yang lebih baik.

4.       Samsul
Sifatnya baik, tabah. Walaupun ia sakit, ia tetl ap menegur Dam dan menguurkan tangannya sebagai tanda selamat atas kemenangan Dam.

·         Sudut pandang
Orang pertama sebagai pelaku utama, karena tokoh utama memakai kata (aku) untuk menggambarkan atau menceritakan dirinya.

·         Gaya bahasa
Gaya bahasa (majas) penegasan yaitu gaya bahasa klimaks karena melukiskan/menguraikan suatu peristiwa secara berturut-turut dan semakin lama maka ceritanya akan semakin memuncak/meningkat.

·         Konflik
1.    Dam mendengar berita dari bibinya bahwa Samsul (adiknya) masuk rumah sakit karena terkena penyakit thypus. Padahal besok ia akan mewakili sekolahnya dalam pertandingan bulu tangkis.
2.   Dam harus membuat pilihan yang terbaik untuknya dan semua orang. Akhirnya, Dam menjadi bimbang dan sulit menentukan sebuah pilihan.
3.       Dam terburu-buru mengambil suatu pilihan tanpa berpikir panjang.

·         Amanat
Segala sesuatu dalam menentukan suatu pilihan, kita tidak boleh terburu-buru dan harus dengan kepala dingin agar dapat memilih suatu pilihan yang terbaik untuk semua orang dan tidak mengecewakannya.


Unsur ekstrinsik :

Biografi pengarang

Toha Mohtar

Toha Mohtar merupakan sastrawan Indonesia yang dikelompokkan sebagai sastrawan angkatan 1950 sampai 1960-an. Toha Mohtar lahir di Kediri, Jawa Timur, 17 September 1926 dan meninggal di Jakarta, 17 Mei 1992. Pendidikan terakhirnya hanya sampai dibangku SMA kelas dia, Kediri tahun 1947. Toha Mohtar pernah menjadi redaktur majalah RIA (1952-1953). Beliau juga pernah berprofesi sebagai guru menggambar di Taman Dewasa, Perguruan Taman Siswa, Jakarta (1953-1959). Keahlian menggambar dan kemampuannya menulis karya sastra bermutu membuat dua komik karya Toha Mohtar memang terasa berbeda. Ia membuat sebuah cerita komik berbobit sastra dan komik bertema perjuangan ini sangat berbeda denga model komik perjuangan yang sudah ditulis sebelumnya. Salah satu ciri dari komik perjuangan baik fiktif maupun yang diangkat dari kisah nyata. Selain sastrawan besar, Toha Mohtar juga seorangkomikus handal. Uniknya dilingkungan sekitar sosok Toha Mohtar lebih dikenal dengan ilustrator daripada seorang pengarang. Berawal dari bekal pengalaman ketika mengembara di zaman revolusi tersebut oleh Toha Mohtar dimanfaatkan untuk menciptakan karya novel yang berjudul Pulang. Akhirnya dikembangkan dengan menjadikan film dari alur cerita novel tersebut yang disutradarai oleh Basuki Effendi dan di sinetronkan disalah satu stasiun televisi yaitu TPI yang dibintangi oleh Turino Djunaidi, kemudian diterbitkan di Malaysia serta di terjemahkan ke berbagai bahasa asing di dunia.

Karya Toha Mohtar :
  • ·         Pulang (1958)
  • ·         Daerah Tak Bertuan (1963)
  • ·         Kabut Rendah (1968)
  • ·         Bukan Karena Aku (1968)
  • ·         Jayamada (bersama Soekanto S.A 1971)
  • ·         Antara Wilis dan Gunung Kelud (1989)

Penghargaan yang diraih :
  • Hadiah Sastra Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional pada tahun 1960, diberikan atas penulisan novel yang berjudul “Pulang” (1958).
  • Hadiah Sastra Yamin pada tahun 1964, diberikan atas penulisan novel dengan judul “Daerah Tak Bertuan” (1963).

Puisi Karangan Sendiri (2)

Nama            : Fitri Mahendi Prameswari
NIM              : 150388201075
Kelas             : H-03
Jurusan         : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas        : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Tugas            : Membuat karangan cerpen
Mata Kuliah : Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia



Akhir Dari Penantian


Sepi, sunyi, kelabu...
Itulah perjalan hidupku tanpa dirimu
Bagai hidup didunia tak berpenghuni
Dikeheningan malam seperti kota mati

Terdengar derap langkah dalam hati
Saat kau hadir...
Seperti malaikat pelipur hati
Membawa cahaya surya penerang jiwa
Yang dulu sendiri kini ada yang menemani

Sejuta memori yang kau ukir
Melukiskan rasa cinta dan kasih sayang
Saat mentari kembali menghampiri
Dengan buaian bunga beraroma wangi
Seakan berbisik menyampaikan pesan
Menjawab atas semua penantianku
Berharap kaulah persinggahan terakhirku
Berlabuh dalam lautan cintaku
Tulus dari dalam hatiku
Ikhlas tak terbatas waktu
Hati ini tegas menghadapi
Merenung disudut gelap kerinduan
Memastikan garis takdir
Menemani kesepianku dan suasana hidupku
Akankah ini sebuah akhir ?
Akhir dari penantian...

Kamis, 12 Mei 2016

Dongeng

Nama            : Fitri Mahendi Prameswari
NIM              : 150388201075
Kelas             : H-03
Jurusan         : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas        : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Tugas            : Membuat karangan cerpen
Mata Kuliah : Sanggar Bahasa dan Sastra Indonesia

Kancil dan Buaya

           
          Suatu hari Si Kancil, binatang yang katanya cerdik itu, sedang berjalan-jalan di pinggir hutan. Dia hanya ingin mencari udara segar, melihat matahari yang cerah bersinar. Di dalam hutan terlalu gelap, karena pohon-pohon sangat lebat dan tajuknya menutupi lantai hutan. Dia ingin berjemur di bawah terik matahari. Di situ ada sungai besar yang airnya dalam sekali. Setelah sekian lama berjemur, Si Kancil merasa bahwa ada yang berbunyi di perutnya,..krucuk…krucuk…krucuk. Wah, rupanya perutnya sudah lapar. Dia membayangkan betapa enaknya kalau ada makanan kesukaannya, ketimun. Namun kebun ketimun ada di seberang sungai, bagaimana cara menyeberanginya ya? Dia berfikir sejenak. Tiba-tiba dia meloncat kegirangan, dan berteriak: 
          “Buaya….buaya…. ayo keluar….. Aku punya makanan untukmu…!!” Begitu Kancil berteriak kepada buaya-buaya yang             banyak tinggal di sugai yang dalam itu.
Sekali lagi Kancil berteriak :
           “Buaya…buaya… ayo keluar… mau daging segar nggak?”
Tak lama kemudian, seekor buaya muncul dari dalam air.
          “Huaahhh… siapa yang teriak-teriak siang-siang begini.. mengganggu tidurku saja.
          “Hei Kancil, diam kau.. kalau tidak aku makan nanti kamu.” Kata buaya kedua yang juga muncul.
          “Wah…. bagus kalian mau keluar, mana yang lain?” kata Kancil kemudian. “Kalau cuma dua ekor masih sisa banyak                 nanti makanan ini. Ayo keluar semuaaa…!” Kancil berteriak lagi.
            “Ada apa Kancil sebenarnya, ayo cepat katakan,” kata buaya.
           “Begini, maaf kalau aku mengganggu tidurmu, tapi aku akan bagi-bagi daging segar buat buaya-buaya di sungai ini,                makanya harus keluar semua."
Mendengar bahwa mereka akan dibagikan daging segar, buaya-buaya itu segera memanggil teman-temannya untuk keluar semua.
          “Hei, teman-teman semua, mau makan gratis nggak? Ayo kita keluaaaar….!” buaya pemimpin berteriak memberikan             komando. Tak berapa lama, bermunculanlah buaya-buaya dari dalam air.
         “Nah, sekarang aku harus menghitung dulu ada berapa buaya yang datang, ayo kalian para buaya pada baris berjajar             hingga ke tepi sungai di sebelah sana. Nanti aku akan menghitung satu persatu.”
Tanpa berpikir panjang, buaya-buaya itu segera mengambil posisi, berbaris berjajar dari tepi sungai satu ke tepi sungai lainnya, sehingga membentuk seperti jembatan.
         “Oke, sekarang aku akan mulai menghitung,” kata Kancil yang segera melompat ke punggung buaya pertama, sambil              berteriak.
        “Satu….. dua….. tiga…..” begitu seterusnya sambil terus meloncat dari punggung buaya satu ke buaya lainnya. Hingga             akhirnya dia sampai di seberang sungai. Hatinya tertawa, “Mudah sekali ternyata.”
Begitu sampai di seberang sungai, Kancil berkata pada buaya,
        “Hai buaya bodoh, sebetulnya tidak ada daging segar yang akan aku bagikan. Tidakkah kau lihat bahwa aku tidak                    membawa sepotong daging pun? Sebenarnya aku hanya ingin menyeberang sungai ini, dan aku butuh jembatan                  untuk lewat. Kalau begitu saya ucapkan terima kasih pada kalian, dan mohon maaf kalau aku mengerjai kalian,” kata            Kancil.
       “Ha!….huaahh… sialan… Kancil nakal, ternyata kita cuma dibohongi. Awas kamu ya.. kalau ketemu lagi saya makan                    kamu,” kata buaya-buaya itu geram.
Si Kancil segera berlari menghilang di balik pohon, menuju kebun Pak Tani untuk mencari ketimun.