Selasa, 06 Oktober 2015

Jendral Polisi (Purn) Hoegeng Imam Santoso

Nama     : Fitri Mahendi Prameswari
Kelas      : H-03
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia


Jendral Polisi (Purn)
Hoegeng Imam Santoso

Lahir            : Pekalongan, Jawa Tengah, 14 Oktober 1921
Meninggal   : 14 Juli 2014
umur            : 82 tahun

Latar belakang

Tokoh Indonesia yang satu ini terkenal sebagai polisi yang juju dan sederhana ditengah ketidakpercayaan masyarakat kepada kepolisian. Hoegeng Imam Santoso merupakan putra sulung dari pasangan Soekario Kario Hatmodjo dan Oemi Kalsoem. Hoegeng sama sekali tidak pernah mempermasalahkan ningrat atau tidaknya seseorang dalam bergaul. Sejak kecil beliau juga di didik dalam keluarga yang menekankan kedisiplinan dalam segala hal. Hoegeng mengenyam pendidikan dasarnya pada usia enam tahun pada tahun 1927 di Hollandsch Inlandsche School (HIS). Tamat dari HIS, ia memasuki Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) pada tahun 1934 yang setingkat dengan SMP di Pekalongan. Lalu pada tahun 1937 beliau melanjutkan pendidikan ke Algemeene Middlebare School (AMS) setingkat SMA.

Karier

            Saat menjadi Kapolri Hoegeng Imam Santoso melakukan pembenahan beberapa bidang yang menyangkut struktur organisasi di tingkat Mabes Polri. Pada masa jabatannya terjadi perubahan nama pimpinan polisi dan markas berkasnya. Beliau adalah salah satu tokoh Kepolisian Indonesia yang pernah menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ke-5 yang bertugas dari tahun 1968-1971. Hoegeng juga merupakan salah satu penandatanganan petisi 50. Banyak hal terjadi selama kepemimpinan Kapolri Hoegeng Imam Santoso. Pertama, Hoegeng melakukan pembenahan beberapa bidang yang menyangkut struktur organisasi di tingkat Mabes Polri. Hasilnya struktur yang baru lebih terkesan lebih dinamis dan komunikatif. Kedua, adalah soal perubahan nama masrkas besarnya, berdasarkan Keppres No.52 Tahun 1969, sebutan Panglima Angkatan Kepolisian RI (Kapolri). Dengan begitu, nama Markas Besar Angkatan Kepolisian pun berubah menjadi Markas Besar Kepolisian (Mabak).

Kesederhanaan Hoegeng Imam Santoso
            Ternyata masa menyenangkan itu tidak berlaku bagi Hoegeng yang anti digosok. Pria yang pernah di nobatkan sebagai “The Man of the Year” 1970 ini pensiun tanpa memiliki rumah, kendaraan, maupun barang mewah. Rumah dinas menjadi milik Hoegeng atas pemberian dari kepolisian. Beberapa kapolda patungan membeli mobil Kingswood, yang kemudian menjadi satu-satunya mobil yang ia miliki. Hoegeng diberhentikan dari jabatannya sebagai Kapolri pada 2 Oktober 1971, dan ia kemudian digantikan oleh Komisaris Jendral Polisi Drs. Moh. Hasan. Pemberhentiannya tersebut, antara lain dikarenakan masa jabatannya sebagai Kapolri saat itu belum habis. Memasuki masa pensiun Hoegeng menghabiskan waktu dengan menekuni hobinya sejak remaja, yakni bermain musik Hawaiian dan melukis. Lukisan itu lah yang kemudian menjadi sumber Hoegeng untuk membiayai keluarga.
Tak heran, Almarhum Gus Dur pernah berkata :
“ Di Indonesia ini hanya tiga polisi jujur, yakni polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng “.

Penghargaan
Atas semua pengabdiannya kepada negara, Hoegeng Imam Santoso telah menerima sejumlah tanda jasa :
-          Bintang Gerilya
-          Bintang Dharma
-          Bintang Bhayangkara I
-          Bintang Kartika Eka Paksi I
-          Bintang Jalasena I
-          Bintang Swa Buana Paksa I
-          Satya Lencana Sapta Marga
-          Satya Lencana Perang kemerdekaan (I dan II)
-          Satya Lencana Dasa Warsa
-          Satya Lencana Yana Utama

-          Satya Penegak